Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
bendera Iran
bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Intinya sih...

  • Protes dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi Iran, berkembang menjadi luapan kekecewaan yang lebih luas.

  • Presiden Iran perintahkan aparat keamanan agar tidak lakukan tindakan represif terhadap para demonstran.

  • Iran kecam campur tangan AS dalam urusan dalam negerinya, menyebut sebagian besar persoalan ekonomi Iran muncul sebagai akibat dari sanksi AS.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA), pada Rabu (7/1/2026), melaporkan bahwa unjuk rasa di Iran telah menyebar di seluruh 31 provinsi, dengan sedikitnya 2.217 orang ditahan.

Sementara itu, korban tewas telah bertambah menjadi 38 orang, terdiri dari 34 demonstran dan 4 petugas keamanan. Puluhan orang juga terluka, sebagian besar akibat tembakan peluru pelet dan peluru plastik.

Menanggapi gelombang protes, lembaga peradilan Iran menyatakan akan mempercepat proses persidangan terhadap mereka yang ditangkap.

“Mulai sekarang, tidak akan ada toleransi bagi siapa pun yang membantu musuh melawan Republik Islam dan ketenangan rakyat,” kata Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, seraya menuduh Israel dan Amerika Serikat (AS) sebagai pihak yang memicu demonstrasi tersebut.

1. Protes dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi Iran

Iran dilanda gelombang protes besar-besaran sejak 28 Desember lalu. Aksi ini awalnya dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi dan anjloknya nilai tukar rial, tapi kemudian berkembang menjadi luapan kekecewaan yang lebih luas, dengan sebagian pengunjuk rasa menyuarakan penentangan terhadap para penguasa ulama di negara itu.

Salah satu tindakan represif paling berdarah terjadi di Malekshahi, sebuah kota kecil di provinsi Ilam, pada Sabtu (3/1/2026). Kelompok-kelompok hak asasi manusia melaporkan sedikitnya empat orang tewas ketika aparat keamanan melepaskan tembakan untuk membubarkan para pengunjuk rasa. Aparat juga dilaporkan menembakkan gas air mata di dalam Rumah Sakit Imam Khomeini saat berupaya menangkap demonstran yang terluka. Pemerintah Iran menyatakan telah memerintahkan penyelidikan terkait insiden tersebut.

Di ibu kota, Teheran, pasukan keamanan juga dilaporkan memasuki Rumah Sakit Sina dan menahan sejumlah demonstran yang terluka. Kejadian tersebut menimbulkan ketakutan di kalangan pasien dan keluarga mereka, dilansir dari Iran International.

2. Presiden Iran perintahkan aparat keamanan agar tidak lakukan tindakan represif

Dalam video yang dirilis oleh kantor berita Iran Mehr, Wakil Presiden Iran, Mohammad Jafar Ghaempanah, menyatakan Presiden Masoud Pezeshkian telah memerintahkan pasukan keamanan untuk tidak melakukan tindakan represif terhadap para demonstran. Namun, ia juga menegaskan bahwa aparat tetap harus bertindak tegas terhadap para perusuh.

“Siapa pun yang membawa senjata api, pisau, dan parang serta menyerang kantor polisi dan fasilitas militer adalah perusuh,” kata Ghaempanah, seraya menegaskan bahwa penting untuk membedakan antara pengunjuk rasa dan perusuh.

Sebelumnya, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan bahwa para perusuh harus diberi pelajaran.

3. Iran kecam campur tangan AS dalam urusan dalam negerinya

Pada Jumat (2/1/2026), Presiden AS, Donald Trump, mengatakan Washington akan turun tangan untuk "menyelamatkan" para demonstran jika Teheran terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap mereka.

Ancaman tersebut memicu kemarahan para pejabat tinggi Iran. Dalam pernyataan pada Rabu, Kementerian Luar Negeri Iran mengecam campur tangan Washington dalam urusan dalam negerinya. Pihaknya menyebut sebagian besar persoalan ekonomi Iran muncul sebagai akibat dari sanksi AS.

"Langkah-langkah yang dilakukan AS terhadap Iran merupakan upaya untuk menghasut kekerasan dan terorisme melalui penyebaran misinformasi dengan cara perang ekonomi dan psikologis," kata kementerian, dikutip dari Anadolu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team