Di Tengah Kemarahan Warga, Pemimpin Tertinggi Iran Susun Rencana Kabur

- Laporan The Times mengungkap skema Plan B lingkaran inti kekuasaan
- Aksi protes menjalar ke ratusan titik dan menelan korban
- Peringatan keras Trump kepada Iran
Jakarta, IDN Times – Tekanan ekonomi yang berkepanjangan membuat kemarahan publik di Iran kian meluap seiring daya beli masyarakat terus jatuh. Situasi tersebut mendorong aksi protes anti-pemerintah membesar dengan peran dominan generasi muda. Dari keluhan rutin soal anjloknya nilai mata uang, inflasi yang menembus 40 persen, serta kenaikan harga bahan bakar bersubsidi, unjuk rasa kemudian meluas ke berbagai daerah dan diwarnai slogan politik keras seperti “Mati bagi diktator” yang sebelumnya dianggap tabu.
Di tengah eskalasi itu, surat kabar Inggris The Times pada Minggu (4/1/2026) mengungkap laporan intelijen yang menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, berusia 86 tahun, telah menyiapkan skenario darurat untuk meninggalkan Teheran.
Skema tersebut disebut hanya melibatkan lingkaran sangat terbatas, sekitar 20 orang, yang mencakup para pembantu inti, keluarga, serta putranya Mojtaba yang kerap dipandang sebagai kandidat penerus. Rencana itu akan dijalankan apabila aparat keamanan gagal mengendalikan demonstrasi atau justru berpihak kepada massa.
1. Laporan The Times mengurai skema Plan B lingkaran inti kekuasaan

Sumber anonim yang dekat dengan pusat kekuasaan menyampaikan kepada The Times bahwa Plan B disiapkan bagi kelompok kecil, termasuk Khamenei, Mojtaba, dan anggota keluarga mereka. Sumber tersebut juga menyebut pengamanan aset di luar negeri, properti, serta uang tunai menjadi bagian dari persiapan demi menjamin perjalanan aman, dilansir dari Chosun.
Khamenei disebut mengendalikan jaringan kekayaan besar melalui yayasan amal yang minim transparansi, salah satunya Setad yang pada 2013 ditaksir Reuters bernilai sekitar 95 miliar dolar AS (setara Rp1.591 triliun). Sejumlah pejabat tinggi di sekitar kekuasaan juga dilaporkan telah lebih dulu menempatkan keluarga mereka di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan negara-negara Teluk.
Media yang sama turut melaporkan kondisi mental dan fisik Khamenei menurun sejak konflik singkat 12 hari melawan Israel tahun lalu, meski basis pendukung intinya masih terlindungi ketat sehingga risiko pembelotan dinilai kecil. Rancangan pelarian tersebut disebut terinspirasi dari pola yang pernah ditempuh Bashar al-Assad saat meninggalkan Suriah.
Benny Shabti, mantan warga Iran yang membelot dan puluhan tahun kemudian bekerja untuk intelijen Israel pasca-Revolusi Islam, memperkirakan.
“Khamenei akan melarikan diri ke Moskwa, Rusia, karena tidak ada pilihan lain baginya,” katanya.
Menurut Shabti, pertimbangan itu berkaitan dengan kekaguman Khamenei terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin serta kedekatan budaya antara kedua negara.
2. Aksi protes menjalar ke ratusan titik dan menelan korban

Gelombang unjuk rasa anti-pemerintah berlangsung keras selama delapan hari berturut-turut dan meluas ke sedikitnya 222 titik di 78 kota pada 26 provinsi, berdasarkan data Badan Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA). Video yang beredar luas memperlihatkan massa membakar potret Ayatollah Ruhollah Khomeini dan Khamenei sembari meneriakkan slogan nasionalis di berbagai wilayah.
Dalam rangkaian bentrokan tersebut, jumlah korban tewas hampir mencapai 20 orang, termasuk satu anggota pasukan keamanan, sementara puluhan lainnya mengalami luka. Khamenei melalui pidato yang disiarkan televisi negara menyebut para pengunjuk rasa sebagai perusuh dan memberi sinyal penindakan keras, namun hingga kini aparat belum mampu meredam gejolak meski pengamanan diperketat.
3. Peringatan keras Trump kepada Iran

Presiden AS Donald Trump menyampaikan peringatan keras kepada Iran dengan menyatakan pemerintahannya siap melancarkan pukulan berat bila rezim melakukan pembantaian terhadap rakyat.
“Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang pernah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan dipukul sangat keras oleh AS,” kata Trump, dikutip dari Times of India.

















