Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kelompok Kurdi di Irak Bersiap Lancarkan Serangan Darat ke Iran
ilustrasi bendera Irak. (unsplash.com/engin akyurt)
  • Kelompok milisi Kurdi Iran di Irak utara bersiap melancarkan operasi darat ke Iran, dengan dukungan senjata ringan dari CIA untuk mengguncang stabilitas pemerintahan Teheran.
  • AS dan Israel melancarkan serangan udara besar di perbatasan Iran-Irak yang menewaskan pejabat tinggi Iran serta membuka jalur bagi infiltrasi pasukan Kurdi dari wilayah Irak.
  • Pemerintah Kurdistan Irak memperketat perbatasan dan menegaskan posisi netral guna mencegah konflik meluas serta menghindari serangan balasan dari pasukan Iran maupun faksi pro-Teheran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kelompok milisi pembangkang Kurdi Iran yang berbasis di Irak utara dilaporkan sedang mempersiapkan operasi militer lintas batas. Operasi darat ini berpotensi menciptakan front peperangan baru di tengah meluasnya konflik bersenjata di wilayah Timur Tengah. Amerika Serikat (AS) melalui CIA disebut telah menyuplai persenjataan ringan kepada pasukan bahkan sebelum serangan ke Iran dimulai.

Dukungan ini bertujuan untuk memicu pemberontakan rakyat sekaligus mengganggu stabilitas pemerintahan di Teheran. Kelompok Kurdi dinilai sebagai faksi oposisi Iran yang paling terorganisasi dan diyakini memiliki ribuan anggota terlatih. Keterlibatan mereka dapat menjadi tantangan besar bagi otoritas Iran yang saat ini juga sedang menghadapi gempuran udara dari AS dan Israel.

1. Trump telah hubungi tokoh kelompok Kurdi

Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pasukan dari Partai Kebebasan Kurdistan (PAK) dilaporkan telah memindahkan unit militer mereka ke area dekat perbatasan di provinsi Sulaymaniyah. Pejabat dari kelompok Komala juga menyatakan kesiapan pasukannya untuk melintasi perbatasan dalam rentang waktu sepekan hingga sepuluh hari ke depan. Mereka saat ini masih berstatus siaga sambil menunggu kondisi lapangan memungkinkan untuk melancarkan operasi.

Presiden AS Donald Trump diketahui telah menghubungi sejumlah tokoh utama Kurdi. Trump meminta dua pemimpin Kurdi Irak, Massoud Barzani dan Bafel Talabani, untuk membuka akses perbatasan bagi pejuang Kurdi Iran. Selain itu, komunikasi juga dilakukan dengan Mustafa Hijri yang memimpin Partai Demokratik Kurdistan Iran (KDPI).

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, membenarkan adanya komunikasi antara Trump dengan para pemimpin Kurdi terkait pangkalan militer AS di Irak utara. Namun, Leavitt membantah laporan yang menyebutkan bahwa presiden telah menyetujui rencana spesifik mengenai dimulainya pemberontakan di Iran. Hal senada juga disampaikan oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang menyatakan bahwa AS sedang tidak fokus mempersenjatai kelompok tertentu.

“Kami berjuang untuk kebebasan dan tentu saja kami berjuang melawan militer yang membahayakan rakyat kami,” ujar seorang veteran Partai Kehidupan Bebas Kurdistan, Siamand Moani, dilansir The New York Times pada Rabu (4/3/2026).

2. AS-Israel serang perbatasan Iran-Irak

bendera Iran. (unsplash.com/mostafa meraji)

Pengeboman AS dan Israel di wilayah Iran sejak Sabtu telah menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut beserta sejumlah pejabat penting. Serangan udara juga menyasar berbagai fasilitas keamanan di perbatasan yang diyakini akan mempermudah infiltrasi pasukan Kurdi dari wilayah Irak.

Serangan terpusat di kawasan timur Iran, khususnya di sekitar rute jalan raya penghubung perbatasan Irak dan Iran. Gempuran udara melumpuhkan fasilitas milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pos penjaga perbatasan, hingga instalasi menara telekomunikasi. Di kota Sanandaj, ledakan hebat menghancurkan markas kepolisian setempat beserta area di sekelilingnya.

Namun, laporan intelijen AS menilai kelompok Kurdi belum memiliki pengaruh maupun sumber daya yang memadai untuk menjatuhkan pemerintah Iran. Oleh karena itu, operasi ini dirancang untuk menyebar kekacauan internal serta menipiskan sumber daya militer rezim Teheran.

“Rakyat Iran pada umumnya tidak bersenjata, kecuali dinas keamanan runtuh, akan sulit bagi mereka untuk mengambil alih kecuali seseorang mempersenjatai mereka,” tutur mantan pejabat senior Pentagon pada era Barack Obama, Alex Plitsas, dilansir CNN.

3. Pemerintah Kurdi Irak perketat perbatasan

Rencana pelibatan milisi Kurdi menempatkan pemerintah daerah Kurdistan Irak pada posisi yang rentan. Otoritas pusat di Baghdad yang memiliki kedekatan dengan Teheran telah menginstruksikan pejabat Kurdi Irak agar melarang para militan melintasi perbatasan. Keterlibatan milisi Kurdi dikhawatirkan akan memicu serangan balasan oleh pasukan Iran maupun faksi pro-Iran di wilayah Irak.

Sebagai pencegahan, Kementerian Dalam Negeri Wilayah Kurdistan telah menerjunkan pasukan keamanan Peshmerga ke zona perbatasan. Deputi Perdana Menteri Kurdistan Irak, Qubad Talabani, juga menekankan posisi netral mereka di tengah konflik regional yang semakin memanas ini.

Otoritas keamanan nasional Irak bahkan mengklaim telah menerima permintaan dari Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Bagheri untuk segera memblokir penyusupan kelompok oposisi menuju teritori Iran.

"Hal ini berpotensi merusak kedaulatan Irak dan pada dasarnya memberdayakan milisi bersenjata tanpa akuntabilitas dan dengan sedikit pemahaman tentang apa yang akan terjadi,” ungkap Jen Gavito, dilansir CNN.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team