Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kemlu RI Pantau Nasib WNI usai Kebakaran di Desa Terapung Malaysia
Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Henny Hamidah dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (16/4/2026). (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Kebakaran besar di desa terapung Sandakan, Sabah, Malaysia menghancurkan sekitar 1.000 rumah dan membuat sekitar 9.000 warga kehilangan tempat tinggal tanpa laporan korban jiwa.
  • Kementerian Luar Negeri RI bersama KJRI Kota Kinabalu memantau kondisi WNI terdampak, melakukan pendataan, serta menyiapkan bantuan administratif bagi yang kehilangan dokumen penting.
  • Pemerintah Malaysia menyediakan pusat penampungan sementara bagi korban, sementara Kemlu RI mengimbau keluarga WNI di Indonesia tetap tenang menunggu informasi resmi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kebakaran besar melanda desa terapung di Sandakan, Sabah, Malaysia, dan menghancurkan sekitar 1.000 rumah dari total 1.200 unit. Insiden yang terjadi pada Minggu (19/4/2026) dini hari waktu setempat ini berdampak luas terhadap ribuan warga, termasuk warga negara Indonesia (WNI).

Peristiwa tersebut menyebabkan sekitar 9.000 orang kehilangan tempat tinggal. Meski tidak ada laporan korban jiwa, sejumlah warga dilaporkan mengalami luka ringan saat berupaya menyelamatkan barang-barang mereka.

Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, memastikan pemerintah terus memantau situasi dan memberikan pendampingan bagi WNI yang terdampak.

“Kementerian Luar Negeri melalui KJRI Kota Kinabalu (KJRI KK) dan Dit. Pelindungan WNI terus memonitor perkembangan dan melakukan pendampingan penanganan insiden kebakaran di wilayah Sandakan, Malaysia,” ujarnya, dalam pernyataan yang diterima IDN Times, Senin (20/4/2026).

Mayoritas penghuni kawasan yang terbakar diketahui merupakan warga Malaysia, Filipina, serta WNI yang menikah dengan warga setempat.

1. Ribuan rumah hangus, warga kehilangan tempat tinggal

ilustrasi kebakaran (pexels.com/Pixabay)

Kebakaran yang melanda Kampung Bahagia di Sandakan ini menyebar cepat dan meluas hingga lebih dari empat hektare. Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman menjadi lebih sulit.

Kepala Balai Bomba dan Penyelamat Sandakan, Jimmy Lagung, menyebut kondisi air laut yang sedang surut turut menghambat proses pemadaman karena keterbatasan akses air.

Puluhan petugas pemadam kebakaran langsung diterjunkan setelah laporan pertama diterima pada pukul 01.32 waktu setempat. Dalam beberapa jam, api terus meluas hingga akhirnya wilayah tersebut ditetapkan sebagai zona bencana pada pukul 04.00.

Api baru berhasil dipadamkan sekitar tengah hari. Hingga kini, sebagian besar rumah yang terbakar dilaporkan sudah tidak dapat ditempati lagi, memperparah kondisi para korban yang kehilangan tempat tinggal.

2. Pemerintah RI fokus data dan keselamatan WNI

Plt Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Henny Hamidah. (IDN Times/Marcheilla)

Di tengah situasi tersebut, Kementerian Luar Negeri RI bersama KJRI Kota Kinabalu terus melakukan langkah-langkah penanganan bagi WNI terdampak. “Melakukan koordinasi intensif dengan otoritas setempat guna memperoleh data akurat terkait jumlah dan kondisi WNI terdampak,” kata Heni.

Selain itu, pemerintah juga melakukan pemantauan langsung di lapangan, termasuk terkait kondisi pengungsi dan distribusi bantuan. “Melakukan pemantauan langsung terhadap perkembangan situasi di lapangan, termasuk penanganan pengungsi dan distribusi bantuan,” lanjutnya.

Kemlu juga menyiapkan bantuan administratif bagi WNI yang kehilangan dokumen penting akibat kebakaran. “Menyiapkan fasilitasi dokumen keimigrasian bagi WNI terdampak yang kehilangan dokumen penting akibat kebakaran,” ujarnya.

Saat ini, fokus utama pemerintah adalah memastikan seluruh WNI dalam kondisi aman serta terdata dengan baik.

3. Pengungsi ditampung, Pemerintah Malaysia turun tangan

potret bendera Malaysia (pexels.com/Thilipen Rave Kumar)

Para korban kebakaran, termasuk WNI, kini telah ditampung di pusat penampungan sementara atau PPS yang disediakan otoritas setempat di Sandakan, Sabah. “Para korban yang memerlukan bantuan juga sudah ditampung di lokasi penampungan (PPS), dan ditangani oleh pihak terkait di Sandakan, Sabah,” kata Heni.

Pemerintah Malaysia melalui Perdana Menteri Anwar Ibrahim juga telah menyatakan komitmennya untuk memberikan bantuan kepada para korban, termasuk penyediaan kebutuhan dasar dan tempat tinggal sementara.

Di sisi lain, otoritas setempat masih terus melakukan pendataan dan penanganan lanjutan, mengingat skala kerusakan yang sangat besar. Kementerian Luar Negeri RI pun mengimbau keluarga WNI di Indonesia untuk tetap tenang dan menunggu informasi resmi.

“Kementerian Luar Negeri mengimbau keluarga di Indonesia yang memiliki kerabat di kawasan tersebut untuk tetap tenang dan menunggu informasi resmi dari Pemerintah,” tutup Heni.

Editorial Team