Jakarta, IDN Times — Krisis di Timur Tengah memasuki babak baru yang krusial. Iran dilaporkan telah mengajukan proposal untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia, dengan syarat Amerika Serikat (AS) mengangkat blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan mereka dan segera mengakhiri perang.
Namun, ada "tapi" yang cukup besar. Tawaran ini mencakup penundaan pembicaraan program nuklir ke tahap berikutnya, sebuah poin yang tampaknya sulit diterima oleh Presiden AS Donald Trump. Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, Trump secara konsisten menegaskan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir adalah harga yang tak dapat ditawar.
“Semuanya akan menjadi kacang dibandingkan dengan itu, jika mereka pernah diberi senjata nuklir,” ujar Trump kepada awak media di Gedung Putih pada Sabtu (25/4/2026), dikutip CNBC.
Menurut laporan Axios dan sumber pejabat regional, usulan itu diteruskan ke Washington lewat Pakistan. Meski disebut membuka ruang baru, jarak antara agenda nuklir Iran dan tuntutan keamanan AS-Israel masih dinilai terlalu lebar.
