Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Tawaran Iran Membuka Selat Hormuz Belum Yakinkan Trump?
Donald Trump. (instagram.com/realdonaldtrump)
  • Iran menawarkan pembukaan Selat Hormuz dengan syarat AS mencabut blokade dan menunda pembicaraan nuklir, namun Trump menolak karena fokus mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
  • Ketegangan di Selat Hormuz membuat pasokan minyak global terganggu, harga energi melonjak tajam, dan ekonomi negara-negara Teluk ikut tertekan akibat blokade serta pembatasan pelayaran.
  • Iran memperluas diplomasi ke Rusia, Pakistan, dan Oman untuk mencari dukungan atas mekanisme tol Selat Hormuz, sementara konflik terus memakan ribuan korban jiwa di kawasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times — Krisis di Timur Tengah memasuki babak baru yang krusial. Iran dilaporkan telah mengajukan proposal untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia, dengan syarat Amerika Serikat (AS) mengangkat blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan mereka dan segera mengakhiri perang.

Namun, ada "tapi" yang cukup besar. Tawaran ini mencakup penundaan pembicaraan program nuklir ke tahap berikutnya, sebuah poin yang tampaknya sulit diterima oleh Presiden AS Donald Trump. Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, Trump secara konsisten menegaskan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir adalah harga yang tak dapat ditawar.

“Semuanya akan menjadi kacang dibandingkan dengan itu, jika mereka pernah diberi senjata nuklir,” ujar Trump kepada awak media di Gedung Putih pada Sabtu (25/4/2026), dikutip CNBC.

Menurut laporan Axios dan sumber pejabat regional, usulan itu diteruskan ke Washington lewat Pakistan. Meski disebut membuka ruang baru, jarak antara agenda nuklir Iran dan tuntutan keamanan AS-Israel masih dinilai terlalu lebar.

1. Tawaran Iran picu skeptisisme Washington

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS, Marco Rubio, langsung menyuarakan keraguannya. Dalam sesi wawancara dengan Fox News Senin (27/4/2026) pagi, Rubio membedah apa yang sebenarnya dimaksud Iran dengan membuka selat. Menurutnya, Iran hanya akan mengizinkan kapal melintas jika mereka berkoordinasi, mendapat izin, atau membayar upeti kepada Teheran.

Rubio menegaskan bahwa AS tidak akan mentoleransi sistem "tol" di perairan internasional tersebut. Baginya, Selat Hormuz bukan milik satu negara yang bisa menentukan siapa yang boleh lewat dan berapa biayanya.

Di sisi lain, gaya diplomasi Trump yang tak dapat diprediksi kembali terlihat. Ia membatalkan rencana pertemuan menantunya, Jared Kushner, dan utusan khusus Steve Witkoff dengan pihak Iran di Pakistan akhir pekan lalu. Lewat unggahan di Truth Social, Trump beralasan bahwa perjalanan itu membuang waktu dan ia merasa AS masih "memegang semua kartu."

Menariknya, pembatalan tersebut justru memicu reaksi cepat dari Teheran. Trump mengklaim bahwa sesaat setelah pembatalan, Iran mengirimkan proposal baru.

“Mereka memberi kami selembar kertas yang seharusnya lebih baik. Dan yang menarik, segera, ketika saya membatalkannya, dalam 10 menit, kami mendapatkan kertas baru yang jauh lebih baik,” kata Trump kepada Bloomberg sebelum menaiki Air Force One.

2. Gangguan Hormuz tekan energi dan ekonomi

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Meski gencatan senjata yang diperpanjang Trump minggu lalu masih berlaku, situasi di lapangan tetap tegang. Selat Hormuz, yang biasanya menampung 20 persenpasokan minyak global, kini hanya beroperasi dengan kapasitas sangat kecil karena pembatasan ketat oleh Iran.

Sebagai serangan balasan, AS melalui Komando Pusat (USCENTCOM) memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Setidaknya 38 kapal telah dihentikan atau dipaksa putar balik oleh armada AS.

Dampaknya mulai menjalar ke ekonomi global. Harga minyak Brent melesat ke 108 dolar AS per barel (setara Rp1,8 juta), hampir 50 persen lebih tinggi sejak perang dimulai, mendorong tekanan pada harga bensin, pupuk, dan bahan pangan.

Tekanan itu juga dirasakan negara-negara Teluk yang mengandalkan ekspor energi melalui jalur tersebut. Ketika distribusi terganggu, posisi ekonomi kawasan ikut berada dalam tekanan.

3. Iran perluas diplomasi cari dukungan baru

ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)

Sembari pintu diplomasi dengan Washington masih tertutup setengah, Iran mencoba mencari dukungan dari kawan lamanya. Dilansir PBS, Menlu Iran, Abbas Araghchi, mendarat di St. Petersburg untuk menemui Presiden Rusia, Vladimir Putin. Araghchi menyebut kunjungan ini sebagai momen penting untuk berkonsultasi dengan "teman-teman Rusia" mengenai dinamika perang.

Selain ke Rusia, Araghchi juga aktif bergerak ke Pakistan dan Oman untuk mencari dukungan terkait mekanisme pengumpulan biaya (tol) di Selat Hormuz. Namun, jalan menuju perdamaian permanen masih sangat berdarah. Hingga saat ini, konflik telah menelan korban jiwa yang mengerikan.

Iran melaporkan 3.375 orang tewas, sementara Lebanon mencatat 2.509 korban, termasuk dalam pertempuran Israel melawan Hizbullah. Di medan militer, 15 tentara Israel, 13 personel militer AS, dan 6 penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut dilaporkan tewas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team