300 Ribu Ton Bahan Baku Krakatau Steel Mandek di Selat Hormuz

- Sebanyak 300 ribu ton bahan baku Krakatau Steel tertahan di Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah, menghambat proses produksi perusahaan.
- Krakatau Steel menurunkan target produksi dari kapasitas 3 juta ton menjadi 1,2 juta ton per tahun karena pasokan bahan baku terganggu.
- Perusahaan menaikkan harga jual baja akibat pelemahan rupiah dan kenaikan biaya logistik, namun tetap menjaga daya saing menghadapi produk impor murah dari China.
Jakarta, IDN Times - Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), Muhammad Akbar Djohan membeberkan sederet dampak konflik di Timur Tengah yang berujung penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Akbar mengatakan, pengiriman 300 ribu ton bahan baku produksi pabrik baja Krakatau Steel terhambat karena penutupan selat tersebut.
“Bahan baku terus terang kita masih impor, dan ada 300-an ribu ton kami masih bermasalah di Selat Hormuz,” kata Akbar di kantor Krakatau Steel, Jakarta, Senin (27/4/2026).
1. Krakatau Steel sesuaikan target produksi

Akibat kendala pengiriman pasokan, KRAS harus menyesuaikan target produksinya, dari kapasitas 3 juta ton menjadi hanya 1,2 juta ton.
“Kalau target secara operasional, volume, itu secara domestik, seharusnya target kita itu per tahun kurang lebih 1,2 juta ton volumenya. Seharusnya bisa mencapai kalau kapasitas terpasang, seharusnya 3 juta ton. Cuma kita harus introspeksi mengenai bahan baku,” ucap Akbar.
2. Harga jual produk baja harus dinaikkan

Selain itu, konflik Timur Tengah yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga meningkatkan biaya produksi KRAS. Oleh sebab itu, perusahaan harus menaikkan harga jual produk bajanya.
“Rupiah melemah ini menjadi konsekuensi semua pihak. Ya, Rp17.100-Rp17.300. Berdampak tentu daripada raw material yang kita beli, pasti ada penyesuaian. Biaya logistik, biaya asuransi, kapal, dan lain sebagainya,” tutur Akbar.
3. Tetap perhatikan persaingan pasar

Meski begitu, Akbar memastikan pihaknya tidak menaikkan harga produk baja secara signifikan. Sebab, KRAS masih harus menjaga daya saing di pasar, apalagi dengan adanya produk baja impor dari China yang banyak beredar di pasaran.
“Tetapi kita juga tidak ingin semena-mena untuk menaikan harga. Karena ketergantungan kita walaupun produk kita bagus, delivery on time, kalau pasar tidak bisa menyerap, dengan persaingan impor baja yang murah dari China, tentu akan boomerang kepada kita. Jadi kita betul-betul kita manage isu ini. Dolar itu sangat berdampak buat kita,” ujar Akbar.














