ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)
Meski ini berita besar, pasar minyak global diperkirakan tidak akan langsung kebakaran jenggot. Fokus dunia saat ini masih tertuju pada ketegangan di Selat Hormuz yang lebih mendominasi sentimen harga. UEA sendiri sudah mengantisipasi risiko jalur laut dengan mengalihkan sekitar 1,8 juta bph minyak mereka melalui pipa darat menuju pelabuhan Fujairah di Teluk Oman.
Jeff Colgan, pakar dari Brown University, menyebut dampak keluarnya UEA belum akan terasa instan.
“Dalam jangka pendek, saya tidak mengharapkan ini memberikan dampak besar karena apa yang terjadi di Selat Hormuz mendominasi seluruh gambaran minyak global,” jelas Colgan kepada DW.
Namun, dalam jangka panjang, ceritanya bisa berbeda. Begitu kondisi di Selat Hormuz stabil, UEA kemungkinan besar akan membanjiri pasar dengan ratusan ribu barel minyak ekstra. Efeknya? Harga minyak dunia diprediksi akan menjadi sedikit lebih murah, namun di sisi lain akan jauh lebih fluktuatif atau tidak stabil.
Sebagai catatan, OPEC yang bermarkas di Wina, Austria, ini didirikan pada 1960 oleh lima negara: Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela. Dengan pamitnya UEA, kini anggota organisasi tersebut menyusut dari 12 menjadi hanya 11 negara, dilansir Al Jazeera.