Lalu Ahmad Fatoni menjelaskan bagaimana kaum disabilitas NTB dilibatkan dalam program mitigasi bencana. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
Bagi Lalu Ahmad Fatoni, perjalanan menuju sistem kebencanaan yang lebih inklusif dimulai dari pengalaman panjang penyandang disabilitas yang selama ini jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Ia mengatakan, keterlibatan penyandang disabilitas dalam perencanaan kebencanaan merupakan perubahan besar yang sebelumnya sulit dibayangkan.
“Dari proses awal ini kan kami dilibatkan, yang sebelumnya kami belum pernah dilibatkan sama sekali. Nah, kalau kami sudah dilibatkan dari proses awal, sampai perencanaan, sampai dengan eksekusi, tentu akan jauh lebih baik dibanding tidak dilibatkan sama sekali,” kata Fatoni saat ditemui di kantor PUSDALOPS BPBD NTB, Selasa (9/6/2026).
Pria yang akrab disapa Bajang Toni itu mengisahkan, pada awalnya isu kebencanaan merupakan hal yang asing bagi banyak organisasi penyandang disabilitas di NTB. Mereka belum memahami istilah-istilah teknis yang digunakan dalam dunia penanggulangan bencana.
Perubahan mulai terjadi pada Maret 2024 ketika Program SIAP SIAGA mempertemukan berbagai organisasi penyandang disabilitas, organisasi pemerhati disabilitas, BPBD, dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
“Kami bertemu untuk bersepakat, kami awalnya membentuk namanya Pokja GEDSI (Kelompok Kerja Gender Equality and Social Inclusion),” ujar Bajang Toni. Kelompok kerja tersebut kemudian berkembang menjadi Unit Layanan Disabilitas BPBD NTB yang resmi diluncurkan pada 3 Desember 2024, bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional.
Melalui berbagai pelatihan dan penguatan kapasitas, para anggota organisasi disabilitas mulai memahami bagaimana sistem kebencanaan bekerja. Mereka juga belajar mengenai mitigasi, kesiapsiagaan, respons darurat, hingga pemulihan pascabencana.
“Setelah akhirnya kami dikuatkan kapasitas kami tentang istilah-istilah dalam kebencanaan, akhirnya kami cukup secara kapasitas untuk menjadi mitra atau menjadi bagian dari penanggulangan bencana inklusif di Provinsi Nusa Tenggara Barat,” ujar Fatoni.
Menurutnya, keterlibatan penyandang disabilitas bukan sekadar untuk memenuhi unsur partisipasi. Pengalaman hidup yang mereka miliki justru menjadi modal penting untuk memastikan kebijakan yang dibuat benar-benar menjawab kebutuhan kelompok rentan.
Bajang Toni mencontohkan, masih banyak fasilitas publik yang dibangun dengan niat baik tetapi tidak efektif digunakan penyandang disabilitas.
Ia menyebut, keberadaan guiding block atau ubin pemandu bagi tunanetra yang hanya berputar-putar di area taman tanpa mengarah ke fasilitas penting. Ada pula ramp kursi roda yang terlalu curam sehingga sulit diakses.
“Jadi, kami penting untuk dilibatkan dalam proses eksekusinya untuk mengawasi hal tersebut, dan ini masih dalam proses kami untuk terus mengadvokasi pemerintah, terutama dalam hal tersebut,” katanya.