Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
Pemerintah Iran membantah laporan mengenai rencana latihan tembak langsung Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Selat Hormuz yang sempat diberitakan media lokal.
“Tidak ada rencana bagi IRGC untuk mengadakan latihan militer di sana dan tidak ada pengumuman resmi tentang hal itu. Hanya laporan media yang salah,” kata seorang pejabat, dikutip dari Al Arabiya.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi merespons peringatan dari AS seraya menilai Washington tak berhak mencampuri urusan militer Iran.
“Militer AS sekarang berusaha mendikte bagaimana Angkatan Bersenjata Kuat kami harus melakukan latihan tembak di wilayah mereka sendiri,” katanya, dikutip dari BBC.
Di sisi lain, Uni Eropa memutuskan memasukkan IRGC ke dalam daftar organisasi teroris. Iran segera merespons dengan menetapkan angkatan bersenjata Uni Eropa sebagai organisasi teroris. Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf turut memberikan tanggapan atas kebijakan tersebut.
“Dengan mencoba menyerang Garda Revolusi … orang-orang Eropa sebenarnya menembak diri mereka sendiri,” katanya, dikutip dari CNA.
Pada kesempatan yang sama, sejumlah anggota parlemen garis keras tampil mengenakan seragam IRGC dan meneriakkan slogan “Kematian untuk Amerika” sebagai bentuk dukungan. Iran juga menggelar parade militer besar di Tehran yang melibatkan IRGC, angkatan darat, kepolisian, dan berbagai unsur keamanan lain, disertai iring-iringan sepeda motor dari Bandara Mehrabad menuju pemakaman Behesht-e Zahra.
Pemerintah Iran menyatakan bahwa demonstrasi massal yang direncanakan pada 11 Februari 2026 akan menandai berakhirnya pengaruh kesombongan global.