Iran Tegaskan Serangan terhadap Khamenei Sama dengan Deklarasi Perang

- Protes antipemerintah dimulai akibat inflasi dan tekanan ekonomi. Putra mantan raja Iran menyerukan perlawanan terhadap pemerintah.
- Terjadi pembatasan komunikasi dan kondisi terbaru di dalam negeri. Pemadaman hampir total terhadap internet dan layanan telepon.
Jakarta, IDN Times – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan peringatan keras pada Minggu (18/1/2026). Ia menegaskan bahwa setiap serangan yang menyasar Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akan diperlakukan sebagai deklarasi perang terbuka. Pernyataan itu ia sampaikan melalui unggahan di platform X.
“Serangan terhadap pemimpin besar negara kami sama dengan perang habis-habisan dengan bangsa Iran,” kata Pezeshkian, dikutip dari TRT World.
Pernyataan itu muncul di tengah spekulasi mengenai kemungkinan langkah Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump terhadap Khamenei. Sehari sebelumnya, pada Sabtu (17/1/2026), Trump dalam wawancara dengan Politico menyerukan agar kekuasaan Khamenei yang telah berlangsung hampir 40 tahun segera diakhiri serta melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan Iran.
1. Gelombang protes domestik dan tuduhan terhadap AS

Aksi protes anti-pemerintah di Iran mulai meletup pada 28 Desember 2025 di Teheran. Pemicu awalnya berasal dari melonjaknya inflasi, melemahnya nilai tukar rial, serta tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Dalam waktu singkat, demonstrasi meluas ke berbagai kota dan berkembang menjadi tuntutan perubahan rezim.
Situasi kian memanas pada 8 Januari 2026 setelah putra mantan raja Iran yang bermukim di AS menyerukan perlawanan terhadap pemerintah. Pezeshkian menilai persoalan ekonomi dan ketidakpuasan publik memiliki kaitan langsung dengan hubungan bermusuhan yang panjang dengan AS.
“Jika ada kesulitan dan kendala dalam kehidupan orang-orang tercinta Iran, salah satu penyebab utamanya adalah permusuhan yang sudah berlangsung lama dan sanksi tidak manusiawi yang dikenakan oleh pemerintah AS dan sekutunya,” kata Pezeshkian, dikutip dari The Guardian.
2. Pembatasan komunikasi dan kondisi terbaru di dalam negeri

Menghadapi keresahan yang meluas, aparat Iran memberlakukan pemadaman hampir total terhadap internet dan layanan telepon. Kebijakan tersebut membatasi arus komunikasi, menyulitkan pemantauan aksi di lapangan, serta menghambat kerja jurnalis independen.
Pemantau jaringan Netblocks melaporkan bahwa akses internet mulai dipulihkan secara bertahap. Sejumlah layanan, termasuk Google, kembali dapat diakses oleh pengguna.
Dalam beberapa hari terakhir belum muncul laporan mengenai aksi protes di jalanan. Meski demikian, saksi mata menyebutkan bahwa seruan anti-Khamenei masih terdengar dari jendela rumah warga di Teheran, Shiraz, dan Isfahan.
Kondisi di berbagai wilayah terlihat relatif tenang. Namun, suasana tersebut disebut tetap diwarnai ketegangan yang terasa di tengah masyarakat.
3. Sikap AS dan dampak regional krisis Iran

Pekan lalu, Trump kembali menyerukan dukungan kepada warga Iran untuk melanjutkan protes dan mengambil alih institusi negara. Seruan itu disampaikan bersamaan dengan kabar mengenai kemungkinan serangan AS yang disebut semakin dekat.
AS dilaporkan sempat berada di ambang peluncuran operasi militer terhadap Iran. Rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah muncul tekanan dari negara-negara tetangga serta jalur diplomasi.
Axios mengungkapkan bahwa Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan Trump soal kesiapan Israel menghadapi potensi serangan balasan Iran. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman juga meminta semua pihak menahan diri demi menjaga stabilitas kawasan.
Trump kemudian mengunggah pesan di media sosial untuk menyampaikan terima kasih kepada pimpinan Teheran karena membatalkan eksekusi terhadap 800 orang. Di antara mereka terdapat Erfan Soltani, demonstran berusia 26 tahun yang divonis hukuman mati, sementara keluarganya memastikan ia masih hidup meski ada laporan penyiksaan di tahanan.
Seorang pejabat Iran menyatakan sedikitnya 5 ribu orang tewas dalam rangkaian protes, termasuk sekitar 500 personel keamanan. Ia menuding kelompok teroris dan perusuh bersenjata sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Dalam pidato terbarunya, Khamenei untuk pertama kalinya mengakui adanya ribuan korban jiwa dan menuding Trump sebagai pihak yang memperparah situasi. Badan berita Human Rights Activists mencatat 24.348 demonstran telah ditangkap. Bentrokan juga paling keras terjadi di wilayah Kurdi barat laut Iran.















