Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kolombia Bakal Musnahkan Puluhan Kuda Nil Liar terkait Pablo Escobar
kuda nil (unsplash.com/Stefan Steinbauer)
  • Pemerintah Kolombia menyetujui pemusnahan sekitar 80 kuda nil keturunan Pablo Escobar karena dianggap mengancam warga dan ekosistem lokal.
  • Upaya sterilisasi dan relokasi selama bertahun-tahun gagal akibat biaya tinggi serta risiko genetik, membuat pemerintah memilih langkah pemusnahan.
  • Rencana ini menuai penolakan dari aktivis hewan yang menilai tindakan tersebut kejam dan mencerminkan kegagalan kebijakan lingkungan pemerintah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Kolombia, pada Senin (13/4/2026), menyetujui rencana pemusnahan puluhan kuda nil yang berkeliaran bebas di wilayah tengah negara itu, di mana mereka mengancam warga desa dan mengusir spesies asli di sana. Hewan-hewan tersebut merupakan keturunan dari empat kuda nil yang dibawa oleh gembong narkoba, Pablo Escobar, pada 1980-an.

Menteri Lingkungan Hidup, Irene Velez, menyebutkan sedikitnya 80 ekor spesies invasif itu akan disuntik mati. Ia mengatakan keputusan ini diambil karena berbagai upaya sebelumnya untuk mengendalikan populasi hewan tersebut, termasuk sterilisasi dan pemindahan ke kebun binatang, terlalu mahal atau tidak efektif.

“Kita harus mengambil tindakan ini untuk melestarikan ekosistem kita,” kata Velez, tanpa menyebutkan kapan pemusnahan tersebut akan dimulai, dilansir Al Jazeera.

1. Sekitar 170 ekor kuda nil hidup bebas di alam liar Kolombia pada 2022

kumpulan kuda nil (unsplash.com/Wade Lambert)

Kolombia merupakan satu-satunya negara di luar Afrika yang memiliki populasi kuda nil liar. Hewan ini pertama kali muncul di negara Amerika Selatan tersebut setelah Escobar membawa empat ekor untuk dipelihara di kebun binatang pribadinya di Hacienda Nápoles pada 1980-an.

Populasinya meningkat pesat setelah Escobar meninggal pada 1993. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Universitas Nasional Kolombia memperkirakan sekitar 170 ekor kuda nil hidup bebas di alam liar pada 2022. Penelitian menyebutkan bahwa hewan ini berkembang biak dengan cepat karena kondisi lingkungan Kolombia yang subur.

Otoritas lingkungan hidup di Kolombia menilai mamalia besar tersebut merupakan ancaman bagi penduduk desa yang kerap menjumpai mereka di area pertanian dan sungai. Kuda nil ini juga bersaing memperebutkan makanan dan ruang hidup dengan spesies lokal seperti manatee sungai.

Meski menimbulkan tantangan lingkungan, kuda nil juga menjadi daya tarik wisata. Penduduk desa di sekitar Hacienda Nápoles dilaporkan menawarkan tur melihat kuda nil dan menjual suvenir bertema hewan tersebut.

2. Program sterilisasi memakan biaya tinggi

kuda nil (unsplash.com/Emmy Shingiro)

Selama 12 tahun terakhir, di bawah tiga pemerintahan presiden yang berbeda, Kolombia telah mencoba mensterilkan beberapa kuda nil dalam upaya mengendalikan populasi mereka. Namun, program ini terbatas karena tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk menangkap hewan berbahaya tersebut dan melakukan prosedur medis pada mereka.

Upaya untuk memindahkan kuda nil kembali ke habitat asalnya di Afrika juga dianggap tidak memungkinkan. Pasalnya, seluruh populasi hewan tersebut berasal dari hanya empat ekor saja, sehingga keragaman genetik mereka sangat terbatas dan berisiko membawa penyakit.

3. Rencana pemusnahan kuda nil ditentang oleh aktivis hewan

kuda nil (unsplash.com/Bob Brewer)

Aktivis kesejahteraan hewan di Kolombia sendiri telah lama menentang usulan pemusnahan kuda nil, dengan alasan bahwa hewan tersebut layak untuk hidup. Menurut mereka, mengatasi masalah ini dengan kekerasan merupakan contoh buruk bagi sebuah negara yang telah mengalami konflik internal selama beberapa dekade.

Dilansir dari The Guardian, Andrea Padilla, senator dan aktivis hak-hak hewan yang membantu merancang undang-undang pelarangan adu banteng di Kolombia, menggambarkan rencana pemusnahan kuda nil sebagai keputusan yang kejam. Ia menuding pejabat pemerintah mencoba mengambil jalan keluar yang paling mudah.

“Pembunuhan dan pembantaian tidak akan pernah bisa diterima. Mereka adalah makhluk sehat yang menjadi korban kelalaian lembaga pemerintah,” tulis Padilla di X.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team