Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Usai Serang Paus, Trump Dikecam karena Unggah Foto 'Jadi Yesus'

Usai Serang Paus, Trump Dikecam karena Unggah Foto 'Jadi Yesus'
Presiden Donald Trump mengunggah ke Truth Social pada hari Minggu sebuah gambar yang tampaknya dihasilkan oleh AI yang menggambarkan dirinya sebagai Yesus. (RealDonaldTrump/Truth Social)
Intinya Sih
  • Donald Trump menyerang Paus Leo XIV lewat Truth Social, menyebutnya lemah setelah Paus mengkritik ancaman militer AS terhadap Iran.
  • Upaya gencatan senjata di Pakistan gagal total, memperburuk ketegangan antara Trump dan Vatikan terkait isu perang serta etika penggunaan kekuatan militer.
  • Trump menuai kecaman luas setelah mengunggah gambar AI bergaya religius yang menampilkan dirinya seperti figur suci, lalu membela diri dengan alasan salah paham.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Dunia politik dan religi Amerika Serikat mendadak guncang dalam 24 jam terakhir. Presiden Donald Trump memicu gelombang kritik bertubi-tubi, mulai dari perselisihan diplomatik dengan Vatikan hingga unggahan media sosial yang dianggap menistakan agama oleh pendukung setianya sendiri.

Ketegangan ini bermula dari isu perang di Iran hingga penggunaan teknologi AI yang dinilai melampaui batas etika bagi seorang pemimpin negara.

1. Sebut Paus Leo XIV sosok yang lemah

Paus Leo XIV
Paus Leo XIV (Fotografía oficial de la Presidencia de Colombia, Public domain, via Wikimedia Commons)

The Guardian melansir, Trump meluncurkan 'serangan' pedas terhadap Paus Leo XIV melalui platform Truth Social pada Minggu malam (12/4/2026). Trump menyebut pemimpin tertinggi Gereja Katolik tersebut sebagai sosok yang "sangat liberal" dan "lemah dalam menangani kejahatan".

Kemarahan Trump ini dipicu oleh kritik Paus terhadap retorika militer AS di Iran. Berdasarkan pemberitaan America Magazine, Paus Leo XIV secara tegas menyebut ancaman serangan Trump terhadap infrastruktur Iran sebagai tindakan yang "benar-benar tidak dapat diterima". Paus bahkan memperingatkan para pemimpin dunia untuk berhenti terjebak dalam "delusi kemahakuasaan".

2. Harapan damai di Pakistan gagal total

Bendera negara Pakistan
Bendera negara Pakistan (Amnagondal, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Ketegangan antara kedua tokoh ini makin memuncak setelah upaya diplomatik untuk meredakan perang menemui jalan buntu. Rencana gencatan senjata dua minggu yang dimediasi di Pakistan dinyatakan gagal total karena tidak tercapainya kesepakatan terkait pengawasan nuklir.

Batalnya kesepakatan ini membuat Trump makin memperkeras posisi militernya, sementara Vatikan melalui media Sky News menegaskan bahwa pesan Injil tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingan politik atau pembenaran perang.

3. Unggah foto AI menyerupai Yesus

Presiden Donald Trump mengunggah ke Truth Social pada hari Minggu sebuah gambar yang tampaknya dihasilkan oleh AI yang menggambarkan dirinya sebagai Yesus.
Presiden Donald Trump mengunggah ke Truth Social pada hari Minggu sebuah gambar yang tampaknya dihasilkan oleh AI yang menggambarkan dirinya sebagai Yesus. (RealDonaldTrump/Truth Social)

Belum reda urusan dengan Vatikan, Trump kembali memicu amarah basis pendukung religiusnya di dalam negeri. Melansir Washington Post, Trump sempat mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya mengenakan jubah putih panjang, seolah-olah sedang melakukan mukjizat penyembuhan di sebuah rumah sakit.

Berbeda dengan kritik terhadap Paus yang bersifat politis, unggahan ini justru memicu kecaman dari tokoh Kristen konservatif. Megan Basham, komentator Protestan terkemuka, menyebut tindakan tersebut sebagai "penistaan agama yang luar biasa" (outrageous blasphemy). Isabel Brown dari Daily Wire juga menyebut unggahan tersebut menjijikkan dan merupakan kegagalan besar dalam memahami iman masyarakat Amerika.

4. Pembelaan 'gambar dokter' yang dianggap absurd

Donald Trump berpidato di sebuah rapat umum di Fountain Hills, Arizona tanggal 19 Maret 2016
Donald Trump berpidato di sebuah rapat umum di Fountain Hills, Arizona tanggal 19 Maret 2016 (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Setelah gambar tersebut dihapus karena gelombang protes, Trump memberikan pembelaan yang cukup unik. Berdasarkan laporan Al Jazeera, Trump mengeklaim kepada wartawan bahwa ia mengira gambar tersebut adalah dirinya sebagai pekerja Palang Merah (Red Cross) atau seorang dokter.

"Saya pikir itu saya sebagai dokter, hanya media berita palsu yang menyarankan saya menggambarkan diri sebagai Yesus," ujar Trump. Namun, pantauan media mencatat bahwa dalam gambar tersebut sama sekali tidak ditemukan simbol medis atau logo Palang Merah, melainkan simbol-simbol patriotik dan jubah era alkitabiah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More