Bendera Korea Selatan (pexels.com/aboodi vesakaran)
Dalam perkembangan sebelumnya, Pyongyang sempat mengancam akan membalas dugaan penerbangan pesawat tanpa awak pengintai milik Seoul yang melintasi perbatasan pada periode Januari dan September. Pemerintah Korsel membantah tudingan tersebut dan membuka penyelidikan untuk menelusuri kemungkinan keterlibatan warga sipil. Sejumlah analis menilai isu itu dimunculkan guna membangkitkan sentimen anti-Korsel menjelang kongres Partai Buruh yang berkuasa, yang untuk pertama kalinya digelar dalam lima tahun dan dijadwalkan berlangsung beberapa pekan ke depan.
Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un, secara tegas menolak usulan Seoul untuk memperbaiki hubungan setelah ketegangan tersebut.
“Mengenai berbagai mimpi liar penuh harapan Seoul yang disebut ‘perbaikan hubungan’, itu … tidak akan pernah terwujud,” katanya, menurut media negara Korut.
Menjelang agenda kongres itu, Kim Jong Un memerintahkan perluasan serta modernisasi fasilitas produksi rudal guna menunjukkan kemajuan pengembangan senjata. Meski Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melarang seluruh bentuk peluncuran maupun uji coba rudal balistik, Pyongyang tetap meningkatkan aktivitas persenjataan dalam beberapa tahun terakhir. Para analis mencatat langkah tersebut diarahkan untuk menyempurnakan kemampuan serangan presisi, menantang AS dan Korsel, serta berpotensi menyiapkan senjata untuk diekspor ke Rusia.