Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, mengatakan perekonomian global menghadapi ancaman besar akibat krisis energi yang dipicu oleh perang di Timur Tengah. Krisis kali ini bahkan dinilai lebih parah dibandingkan krisis minyak pada 1973 dan 1979 serta krisis gas akibat dampak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
“Dalam kondisi saat ini, krisis ini pada dasarnya merupakan gabungan dari dua krisis minyak dan satu krisis gas,” kata Birol dalam pidatonya di National Press Club di ibu kota Australia, Canberra, pada Minggu (22/3/2026), dikutip dari The Straits Times.
Menurutnya, tidak ada satu pun negara yang akan kebal terhadap dampak krisis ini.
