Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Trump Ultimatum Iran Buka Hormuz dalam 48 Jam

Trump Ultimatum Iran Buka Hormuz dalam 48 Jam
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Intinya Sih
  • Donald Trump mengultimatum Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam 48 jam, dengan ancaman menghancurkan pembangkit listrik utama jika Teheran tidak mematuhi perintah tersebut.
  • Ancaman ini muncul di tengah lonjakan harga energi global akibat terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
  • Infrastruktur energi Iran, termasuk ratusan pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan satu reaktor nuklir di Bushehr, kini menjadi fokus utama di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran terkait penutupan Selat Hormuz. Ia memberi ultimatum 48 jam kepada Teheran untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Ancaman itu disampaikan Trump melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Sabtu malam waktu setempat. Dalam pernyataannya, ia menegaskan, Amerika Serikat siap mengambil tindakan militer jika Iran tidak segera bertindak.

“Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam 48 JAM sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai PEMBANGKIT LISTRIK mereka, DIMULAI DARI YANG TERBESAR!” tulis Trump di akun Truth Social, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (22/3/2026).

Ultimatum tersebut menandai peningkatan tajam dalam retorika Washington terhadap Teheran, di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan dampak global dari terganggunya jalur energi utama dunia.

1. Ultimatum hancurkan pembangkit listrik Iran dalam 48 jam

kapal di Selat Hormuz
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

Trump memberikan tenggat waktu yang jelas dalam ancamannya, yakni hingga Senin (23/3) malam waktu Amerika Serikat atau Selasa dini hari waktu Teheran. Pernyataan ini menunjukkan tekanan besar yang kini diarahkan ke Iran.

Sebelumnya, Trump sempat menyebut opsi menyerang infrastruktur Iran, namun dengan nada yang lebih hati-hati. Ia bahkan sempat mengatakan bahwa serangan semacam itu dapat menghambat kemampuan Iran untuk pulih.

Ancaman terbaru ini juga mencerminkan pengakuan bahwa penutupan Selat Hormuz memberi Iran posisi tawar yang signifikan dalam konflik yang sedang berlangsung.

Padahal sehari sebelumnya, Trump sempat menyatakan AS tengah mempertimbangkan untuk mengurangi operasi militernya di Timur Tengah, serta menyebut bahwa pada akhirnya Selat Hormuz akan terbuka dengan sendirinya.

2. Tekanan akan meningkatnya harga energi global

Ilustrasi harga minyak naik
Ilustrasi harga minyak naik (IDN Times/Arief Rahmat)

Ancaman Trump muncul di tengah lonjakan harga energi global akibat terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute terpenting bagi perdagangan energi dunia.

Pemerintah AS dilaporkan tengah berupaya keras untuk mencegah penutupan Selat Hormuz berlangsung lama. Namun, para pejabat mengakui, tidak ada solusi yang mudah untuk membuka kembali jalur tersebut.

Kondisi ini juga berdampak langsung pada harga bahan bakar di dalam negeri AS, yang mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Di sisi lain, Trump sebelumnya juga mengungkapkan bahwa ia telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas minyak dan gas Iran.

3. Infrastruktur energi Iran jadi sorotan

Bendera Iran sedang berkibar.
potret bendera Iran (unsplash.com/Akbar Nemati)

Iran memiliki infrastruktur energi yang luas dan beragam, termasuk sekitar 110 pembangkit listrik berbahan bakar gas. Selain itu, negara tersebut juga mengoperasikan pembangkit berbasis energi terbarukan dan nuklir.

Tiga pembangkit listrik terbesar Iran berbasis gas, antara lain Damavand Combined Cycle Power Plant dengan kapasitas 2.868 MW, Shahid Salimi sebesar 2.215 MW, dan Shahid Rajai sebesar 2.043 MW.

Sebagian besar produksi listrik Iran masih bergantung pada bahan bakar fosil. Data menunjukkan lebih dari 340 ribu GWh listrik berasal dari sumber tersebut, sementara energi terbarukan menyumbang sekitar 28 ribu GWh.

Iran juga memiliki satu pembangkit listrik tenaga nuklir aktif di Bushehr. Otoritas energi Iran sebelumnya melaporkan bahwa fasilitas tersebut sempat terkena “proyektil bermusuhan”, namun tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan signifikan.

Ketegangan yang meningkat antara AS dan Iran kini menempatkan infrastruktur energi sebagai salah satu titik krusial dalam potensi eskalasi konflik yang lebih luas.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in News

See More