Ilustrasi kapal tanker. (pexels.com/Luis Morales Torres)
Iran menyatakan akan menghentikan operasi militernya, jika serangan terhadapnya dihentikan, serta membuka jalur terbatas di Selat Hormuz melalui koordinasi militer. Untuk diketahui, sejak konflik meningkat akibat serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, selat tersebut terblokir yang memicu gangguan pasokan energi global dan lonjakan harga minyak.
Meskipun mengecam blokade Iran, pemerintahan Takaichi tetap menjaga hubungan diplomatik Tokyo-Teheran, sambil berkoordinasi erat dengan sekutu keamanannya, Washington.
Saat ini, sebanyak 42 kapal terkait Jepang masih tertahan di Teluk Persia, menunggu jaminan keamanan lebih lanjut. Bahkan jika blokade dicabut segera, diperlukan sekitar 20 hari bagi kapal-kapal tanker tersebut untuk sampai ke pelabuhan Jepang. Dilaporkan, 3 kapal afiliasi Jepang telah berhasil melintasi Selat Hormuz dengan selamat sejak 3 April 2026, termasuk kapal LPG Green Asha.
Upaya diversifikasi pasokan dari Amerika dan wilayah lain menghadapi kendala besar. Pejabat pemerintah mengakui menutup seluruh kekurangan, tanpa minyak Timur Tengah adalah mustahil.
Sementara itu, rute alternatif pun tidak bebas risiko. Jalur melalui Laut Merah terancam serangan oleh kelompok bersenjata Houthi pro-Iran di Yaman. Opsi yang lebih aman, yaitu mengitari Tanjung Harapan di Afrika. Namun, rute tersebut akan memperpanjang waktu pelayaran dan dapat memicu kekurangan kapal tanker global.