Jepang Siapkan Taksi Terbang Komersial Mulai 2027

- Pemerintah Jepang menargetkan peluncuran taksi terbang komersial eVTOL pada 2027–2028, dimulai dari rute wisata tepi laut Tokyo dan Osaka sebelum diperluas ke jalur antarkota.
- Setiap unit wajib lolos uji kelayakan ketat mencakup keamanan baterai, kebisingan, dan lisensi pilot khusus, sementara vertiport modern tengah dibangun untuk mendukung operasionalnya.
- Pemerintah menggandeng sektor swasta seperti JAL, ANA, Toyota, dan Mitsubishi guna mempercepat infrastruktur serta produksi massal demi mobilitas ramah lingkungan menuju target netral karbon 2050.
Jakarta, IDN Times - Jepang resmi mengambil langkah strategis untuk mengizinkan penggunaan taksi terbang komersial pada Rabu (1/4/2026). Aturan mengenai teknologi transportasi udara ini ditargetkan rampung dan siap beroperasi paling lambat pada 2027 atau 2028.
Kendaraan bertenaga listrik yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal (electric Vertical Take-off and Landing/eVTOL) ini diharapkan dapat merevolusi mobilitas warga di kawasan padat penduduk menjadi lebih efisien.
1. Rute wisata tepi laut jadi langkah awal sebelum perluasan antarkota

Pemerintah Jepang menyusun rencana operasional secara bertahap. Tahap awal akan difokuskan pada penerbangan wisata di kawasan tepi laut Tokyo dan Osaka. Wilayah perairan dipilih untuk meminimalisasi risiko keselamatan dan gangguan suara bising di tengah kota, sekaligus memberi waktu bagi masyarakat untuk terbiasa dengan moda transportasi baru ini.
Setelah layanan wisata dinilai lancar, rute akan diperluas menjadi penerbangan antartitik yang menghubungkan bandara internasional utama dengan pusat kota terdekat. Sebagai gambaran, perjalanan darat dari pusat Tokyo menuju Bandara Narita yang biasanya memakan waktu lebih dari satu jam, diperkirakan hanya butuh 15 menit menggunakan taksi terbang.
Selain di kota besar, taksi terbang juga disiapkan untuk menjangkau wilayah sulit seperti pulau terpencil dan pegunungan, serta membantu evakuasi darurat dan pengiriman barang saat terjadi bencana. Untuk menjaga keamanan lalu lintas udara, otoritas terkait tengah merancang jalur udara khusus atau AAM Corridors agar taksi terbang tidak bersinggungan dengan pesawat komersial maupun drone. Ke depan, pemerintah menargetkan sistem terbang otomatis penuh pada awal 2030-an dengan sistem pemesanan tiket terintegrasi via aplikasi ponsel.
2. Uji keamanan ketat untuk memastikan keselamatan penumpang

Setiap taksi terbang wajib melewati serangkaian tes kelayakan ketat dari otoritas penerbangan sipil sebelum diproduksi massal. Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata (MLIT) saat ini sedang mengaudit desain, mesin listrik, dan perangkat lunak navigasi dari berbagai pengembang eVTOL guna memastikan sistemnya aman dan minim kegagalan.
Karena regulasi internasional untuk taksi terbang belum seragam, Jepang menetapkan standar keselamatannya sendiri. Syarat utamanya antara lain perlindungan baterai dari panas berlebih (overheating) serta kewajiban menyediakan pelampung (life jackets) untuk rute di atas air.
"Kami sedang bekerja sesuai jadwal agar produk kami bisa segera dikirimkan pada tahun 2028," kata Vice President SkyDrive, Yugo Fukuhara, dilansir The Japan Times.
Uji kelayakan ini juga mengukur tingkat kebisingan; taksi terbang wajib beroperasi lebih senyap dibandingkan helikopter konvensional. Di darat, infrastruktur vertiport tengah dibangun sebagai fasilitas lepas landas, pengisian daya cepat, hingga gerbang masuk penumpang yang dilengkapi teknologi pengenal wajah. Selain itu, pilot taksi terbang wajib mengantongi lisensi khusus dan terlatih menangani kondisi darurat.
3. Pemerintah gandeng pihak swasta untuk wujudkan mobilitas masa depan

Proyek taksi terbang ini mendapat dukungan penuh dari pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi. Sejak 2018, pemerintah bersama sektor swasta telah membentuk tim khusus untuk merampungkan kerangka teknis dan hukum.
Di Tokyo, pemerintah setempat menggandeng dua konsorsium besar. Kelompok pertama dipimpin oleh Japan Airlines (JAL) yang berfokus pada operasional penerbangan, sementara kelompok kedua digawangi Nomura Real Estate Development untuk pembangunan infrastruktur vertiport. Maskapai ANA Holdings juga telah menjalin kemitraan dengan Joby Aviation dari Amerika Serikat untuk mempercepat ketersediaan armada.
"Saya yakin layanan ini akan cepat populer karena perjalanannya empat sampai lima kali lebih cepat daripada taksi biasa," ungkap CEO SkyDrive, Tomohiro Fukuzawa.
Harga tiket taksi terbang diproyeksikan akan semakin terjangkau seiring dengan produksi massal dan kemajuan teknologi baterai. Memasuki dekade 2030, biayanya diperkirakan bisa ditekan hingga separuh dari tarif taksi konvensional saat ini. Selain memangkas waktu tempuh, taksi terbang bertenaga listrik ini selaras dengan target Jepang untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050. Saat ini, raksasa industri seperti Mitsubishi Estate dan Toyota Motor juga turut memperkuat ekosistem proyek ini menjelang peluncuran komersialnya pada 2027 atau 2028.



















