Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
 KTT India-Afrika Ditunda akibat Wabah Ebola
ilustrasi baju APD (pexels.com/Gustavo Fring)
  • India dan Uni Afrika menunda KTT Forum India-Afrika 2026 di New Delhi karena memburuknya wabah Ebola di sejumlah wilayah Afrika.
  • Wabah Ebola ke-17 di Republik Demokratik Kongo telah menewaskan lebih dari seratus orang dan menyebar hingga wilayah konflik yang dikuasai kelompok M23.
  • Penanganan wabah terhambat konflik bersenjata, kekurangan logistik, serta belum adanya vaksin efektif untuk strain Bundibugyo, membuat risiko penularan lokal tetap sangat tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesIndia dan Uni Afrika (UA) resmi menunda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Forum India-Afrika yang semula dijadwalkan berlangsung di New Delhi pada 28-31 Mei 2026. Penundaan dilakukan di tengah memburuknya situasi kesehatan masyarakat di sejumlah wilayah Afrika.

Keputusan itu diumumkan pada Kamis (21/5/2026) melalui pernyataan bersama Kementerian Luar Negeri India dan UA. Kedua pihak menyepakati bahwa penjadwalan ulang diperlukan setelah mempertimbangkan perkembangan krisis kesehatan dan pentingnya keterlibatan penuh para pemangku kepentingan dari Afrika dalam forum tersebut.

1. Wabah Ebola meluas ke wilayah konflik di Kongo

ilustrasi peta Afrika (pexels.com/Nothing Ahead)

Merebaknya wabah Ebola menjadi faktor utama di balik penundaan KTT tersebut. Dilansir Al Jazeera, petugas kesehatan di Republik Demokratik Kongo (DRC) tengah menghadapi wabah Ebola ke-17 yang sudah ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai darurat internasional setelah diduga menyebabkan 139 kematian dan hampir 600 kasus suspek maupun probable, termasuk dua kasus terkonfirmasi di Uganda.

Laporan France 24 menyebutkan penyebaran virus kini mencapai provinsi Kivu Selatan setelah kasus pertama dikonfirmasi pada Kamis (21/5/2026). Wilayah itu berada di bawah kendali kelompok Aliansi Jenderal untuk Perubahan/Gerakan 23 Maret (M23) yang didukung Rwanda.

Penyebaran tersebut memperluas jangkauan virus yang sebelumnya lebih terkonsentrasi di provinsi Ituri bagian utara. Kasus terbaru melibatkan pria berusia 28 tahun yang melakukan perjalanan dari Kisangani di provinsi Tshopo, daerah yang sebelumnya belum terdampak wabah kali ini.

“Orang yang bersangkutan, seorang sesama warga berusia 28 tahun, sayangnya meninggal karena penyakit tersebut sebelum diagnosis dikonfirmasi,” ujar juru bicara M23, dikutip Al Jazeera.

Pemerintah Kongo belum menyampaikan komentar resmi mengenai kasus di Kivu Selatan. Ancaman terhadap Bukavu, ibu kota provinsi yang dikuasai M23 sejak Februari 2025, ikut meningkat setelah virus masuk ke wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak tersebut.

2. Konflik bersenjata menghambat penanganan Ebola

ilustrasi perang (pexels.com/Beyzanur K.)

Penanganan penyakit haemorrhagic atau demam berdarah virus di DRC terus menghadapi hambatan besar. Operasi tanggap darurat medis terganggu konflik berkepanjangan di wilayah timur negara itu, termasuk bentrokan antara tentara Kongo dan pemberontak M23.

Persoalan utama juga muncul dalam pengelolaan krisis kesehatan di lapangan. M23 belum memiliki pengalaman menangani epidemi sebesar Ebola, padahal virus tersebut telah menewaskan lebih dari 15 ribu orang di Afrika dalam setengah abad terakhir.

M23 menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan mitra internasional guna menekan penyebaran wabah. Di sisi lain, kondisi lapangan tetap berat karena virus telah menjangkiti kawasan perkotaan padat penduduk dan menyebar di sepanjang garis depan konflik.

3. Kelangkaan logistik memperburuk situasi wabah

ilustrasi bantuan (pexels.com/RDNE Stock project)

Kondisi di wilayah terdampak semakin sulit akibat karakter virus dan terbatasnya dukungan logistik. Wabah saat ini dipicu Ebola strain Bundibugyo yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan klinis spesifik yang terbukti efektif.

Petugas di garis depan melaporkan terjadinya kekurangan pasokan medis dasar. Situasi tersebut ikut dipengaruhi pemangkasan bantuan luar negeri dari sejumlah donor utama, termasuk Amerika Serikat.

Wilayah timur DRC juga masih terbelah oleh garis depan pertempuran antara pasukan pemerintah dan pejuang M23 beserta sekutu Rwanda mereka. Penutupan bandara Goma sejak Januari 2025 turut menghambat distribusi bantuan kemanusiaan internasional.

WHO menilai risiko penularan lokal di wilayah DRC dan Afrika Tengah berada pada tingkat sangat tinggi. Meski begitu, lembaga tersebut menyebut potensi wabah berkembang menjadi pandemik global yang menyebar luas ke seluruh dunia masih tergolong rendah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team