Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kuba Disebut Mau Serang AS Pakai Ratusan Rudal, Kenapa?
ilustrasi rudal (unsplash.com/Akshat Jhingran)
  • Kuba dilaporkan berencana menyerang Amerika Serikat dengan 300 rudal, menargetkan pangkalan militer dan wilayah penting seperti Florida serta Teluk Guantanamo.
  • Pemerintah Kuba membantah laporan tersebut dan menilai tuduhan itu sebagai kampanye anti-Kuba yang bisa memicu ketegangan serta membenarkan serangan terhadap negaranya.
  • Hubungan Kuba-AS makin panas akibat embargo energi dari Washington yang membuat krisis bahan bakar dan listrik di Kuba semakin parah hingga terjadi pemadaman hampir sepanjang hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kuba disebut sedang berencana melakukan serangan ke Amerika Serikat. Menurut laporan Axios yang mengutip beberapa sumber intelijen pada Minggu (17/5/2026), Kuba berencana menyerang AS menggunakan 300 rudal yang baru-baru ini peroleh.

Axios menjelaskan, Kuba berencana menyerang sejumlah situs dan tempat penting yang ada di AS. Beberapa di antaranya, seperti pangkalan militer AS di Teluk Guantanamo dan kapal perang AS yang sedang berpatroli di laut internasional. Bahkan, Kuba disebut berencana menyerang Florida. 

1. AS menyadari ancaman serangan dari Kuba

ilustrasi serangan (unsplash.com/Vony Razom)

Axios menyebut serangan ini merupakan upaya Kuba untuk menangkal ancaman AS. Sebab, beberapa waktu lalu, Presiden AS, Donald Trump, mengatakan sedang mempertimbangkan operasi militer untuk menguasai wilayah Kuba. 

Saat ini, AS dikabarkan sudah menyadari ancaman serangan dari Kuba. Oleh karena itu, seorang pejabat AS anonim mengatakan, pihaknya akan selalu mengantisipasi serangan dari negara mana pun, termasuk dari Kuba. Apalagi, penasihat militer Iran dikabarkan ada di Kuba sehingga mereka berpotensi menghasut dan membantu Kuba untuk menyerang AS.

“Ketika kita memikirkan tentang teknologi-teknologi semacam itu yang begitu dekat dan berbagai pelaku jahat mulai dari kelompok teroris hingga kartel narkoba, Iran, dan Rusia, itu sangat mengkhawatirkan. Ini adalah ancaman yang semakin besar,” kata pejabat AS tersebut, seperti dilansir The Strait Times

2. Kuba membantah keras laporan Axios

potret bendera Kuba (pexels.com/Matthias Oben)

Namun, semua laporan Axios soal rencana serangan ke AS tadi dibantah mentah-mentah oleh Pemerintah Kuba. Mereka mengatakan tuduhan tersebut tidak berdasar dan berpotensi menimbulkan kegaduhan. 

“Kampanye anti-Kuba yang bertujuan untuk membenarkan, tanpa alasan apa pun, serangan militer terhadap Kuba semakin intensif dari jam ke jam dengan tuduhan yang semakin tidak masuk akal,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernandez de Cossio, dalam sebuah unggahan di X

“Amerika Serikat adalah agresor. Kuba adalah negara yang diserang. (Oleh karena itu, kami harus) bertindak untuk membela diri,” tambahnya.  

3. Hubungan Kuba dan AS kian memanas

potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Thuan Vo)

Laporan dari Axios tadi membuat hubungan Kuba dan AS kian panas. Selama beberapa bulan terakhir, hubungan Kuba dan AS juga sudah bermasalah. Ini terjadi karena blokade energi yang ditetapkan Presiden Donald Trump ke Kuba.  

Pada pekan lalu, Menteri Energi Kuba, Vicente de La O Levy, mengeluhkan dampak embargo minyak AS yang dilakukan terhadap negaranya. Ia menyebut embargo itu kini membuat cadangan bahan bakar minyak (BBM) Kuba, seperti bensin dan solar habis total. 

“Kami tidak punya bahan bakar minyak dan tidak ada solar. Kita sama sekali tidak punya cadangan untuk semua itu. Oleh karena itu, Kuba terbuka untuk siapa pun yang ingin menjual minyaknya kepada kami," kata Vicente pada 13 Mei dilansir The Guardian.  

Vicente menambahkan, ketiadaan cadangan BBM ini memperburuk krisis energi listrik di Kuba. Sebab, pembangkit listrik di seluruh negeri tidak bisa beroperasi tanpa bahan bakar. Ini membuat pemadaman listrik di Kuba jadi lebih sering dilakukan. Bahkan, frekuensinya bisa sampai 22 jam per hari.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team