Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
suasana di Havana, Kuba
suasana di Havana, Kuba (unsplash.com/dmrschmidt)

Intinya sih...

  • Kuba tetapkan kondisi perang di tengah ancaman AS.

  • Kuba tuding AS memanipulasi bantuan imbas Badai Melissa.

  • Rubio sebut bantuan AS langsung diserahkan ke warga sipil Kuba.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel mengatakan bersedia berdialog dengan Amerika Serikat (AS). Namun, menolak adanya paksaan ataupun segala bentuk konsesi politik dari AS untuk menekan Kuba. 

“Kami selalu bersedia untuk berdialog dan memperbaiki hubungan antara AS dan Kuba. Namun, semuanya harus didasarkan pada rasa saling hormat dan setara satu sama lain,” tutur Diaz-Canel, dikutip dari France24, Selasa (20/1/2026).

Setelah serangan ke Venezuela, Presiden AS, Donald Trump terus mengancam Kuba. Ia menyebut bahwa rezim Kuba akan runtuh dengan sendirinya setelah lengsernya mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. 

1. Kuba berencana tetapkan kondisi perang di tengah ancaman AS

ilustrasi Kuba (pexels.com/Yuting Gao)

Pada saat yang sama, Dewan Keamanan Nasional Kuba menyetujui rencana penetapan kondisi perang. Rencana ini menyusul tensi Kuba dengan AS usai serangan ke Venezuela pada awal Januari. 

Dilansir EFE, strategi yang sama sudah dipromosikan oleh mantan Presiden Kuba, Fidel Castro pada 1980-an. Langkah itu termasuk mobilisasi massal penduduk Kuba dalam menghadapi agresi militer dari negara lain. 

Sementara itu, Kuba juga sudah mengadakan sejumlah latihan militer dalam menghadapi ancaman AS. Latihan tempur itu termasuk latihan penyergapan dan pelatihan penanaman ranjau dan perlindungan kepada warga sipil. 

2. Kuba tuding AS memanipulasi bantuan imbas Badai Melissa

ilustrasi bendera Kuba (unsplash.com/limamauro23)

Pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Kuba mengatakan bahwa AS telah mengeksploitasi bantuan kemanusiaan usai terjangan Badai Melissa. Bantuan itu disebut tiba tanpa komunikasi dengan pemerintah Kuba. 

“Kuba tidak menolak bantuan dari pemerintah atau organisasi luar negeri yang menguntungkan warga sipil. Namun, bantuan kemanusiaan itu tidak boleh dilandasi oleh motif politik. Semua bantuan harus lewat pemerintah dan organisasi, seperti Gereja Katolik,” katanya, dilansir The Latin Times.

Di sisi lain, AS membantah bahwa bantuan kemanusiaan tersebut dilandasi motif politik. Washington menyebut bantuan berupa tuna kaleng, beras, kacang, dan pasta itu tidak ada hubungannya dengan politik di AS. 

3. Rubio sebut bantuan AS langsung diserahkan ke warga sipil Kuba

ilustrasi warga memegang bendera Kuba (unsplash.com/Ricardo IV Tamayo)

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengatakan bahwa bantuan kemanusiaan ke Kuba akan dikirimkan ke warga sipil tanpa melalui rezim. Ia menyebut, bantuan itu akan diserahkan kepada Gereja Katolik dan organisasi lainnya. 

Bantuan ini sebagai bagian dari pengiriman bantuan kemanusiaan AS ke Kuba dalam beberapa bulan terakhir. Pada Oktober, AS berjanji untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan senilai 3 juta dolar AS (Rp50 miliar) usai terjangan Badai Melissa. 

Sebelumnya, AS sudah mengatakan tidak akan membuat runtuh rezim Kuba, tapi hanya mempertahankan tekanan. Washington juga masih memperbolehkan bantuan kemanusiaan dan energi yang penting bagi warga sipil Kuba. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team