Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi bendera Kuba (unsplash.com/limamauro23)
ilustrasi bendera Kuba (unsplash.com/limamauro23)

Intinya sih...

  • Diaz-Canel menolak ancaman tarif AS terhadap Kuba

  • Meksiko dan AS berdialog mengenai tarif ekspor minyak ke Kuba

  • Negara Amerika Latin dan Eropa berencana evakuasi diplomat dari Kuba

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel menyebut bahwa kebijakan baru dari Trump ini adalah fasis, kriminal, dan upaya genosida kepada Kuba. Menurutnya, tindakan ini adalah kehendak pribadi dari Trump bukan dari warga Amerika. 

“Kebijakan ini menunjukkan pandangan fasis, kriminal, dan upaya genosida yang memanfaatkan kepentingan rakyat Amerika untuk kepentingan personal saja. Kebijakan ini diberlakukan dengan alasan yang tidak jelas,” terangnya, dilansir EFE, Minggu (1/2/2026). 

Sementara itu, alasan utama Washington terkait hubungan dekat Havana dengan Moskow yang dianggap sebagai negara musuh. AS menuding Kuba bersedia menjadi pangkalan mata-mata dan jaringan kelompok teroris internasional di dekat teritori negaranya. 

1. Diaz-Canel sebut AS bingung menetapkan kebijakan untuk menggulingkan Kuba

Diaz-Canel menolak ancaman tarif dari Amerika Serikat (AS) kepada negara yang menjual minyak ke negaranya. Langkah ini akan memperparah krisis energi di negara Karibia tersebut. 

“AS bingung untuk menetapkan kebijakan apa yang dapat menggulingkan rezim komunis di Kuba selama 67 tahun. Namun, kami akan bertahan dan melanjutkan dialog yang menjunjung kedaulatan dan penghormatan satu sama lain tanpa ikut campur urusan internal,” ungkapnya.

Sebelumnya, AS berencana untuk memberlakukan blokade total pengiriman minyak ke Kuba. Rencana itu berfungsi menggulingkan rezim komunis Kuba tahun ini. 

2. Meksiko dan AS berdialog mengenai tarif ekspor minyak ke Kuba

Menanggapi penetapan tarif ini, Menteri Luar Negeri Meksiko, Juan Ramon de la Fuente berdialog dengan Menlu AS, Marco Rubio. Keduanya setuju untuk memperkuat kolaborasi sesuai kepentingan kedua negara. 

Rubio menyerukan agar lebih memprioritaskan kepentingan keamanan di kawasan ketimbang lainnya. Namun, tidak dijelaskan secara detail terkait prioritas keamanan yang dimaksud. 

Sebelumnya, Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum sudah mengungkapkan keinginan melanjutkan pengiriman minyak ke Kuba. Namun, adanya tarif membuat Meksiko ragu untuk mengekspor minyak ke negara Karibia tersebut. 

3. Negara Amerika Latin dan Eropa berencana evakuasi diplomat dari Kuba

Pada saat yang sama, negara-negara Amerika Latin dan Eropa yang memiliki Kantor Kedutaan Besar di Kuba berencana melakukan evakuasi diplomat. Langkah ini untuk menghindari ancaman kolapsnya Kuba usai penetapan tarif dari AS. 

Dilansir The Latin Times, perusahaan asal Inggris, Unilever sudah melakukan evakuasi keluarga dari pekerja asing di Kuba. Langkah ini sebagai antisipasi imbas semakin parahnya krisis energi di Kuba imbas tarif dari AS. 

Pada awal tahun ini, Kuba hanya menerima pasokan minyak kurang dari 85 ribu barel. Kuba masih punya cadangan minyak yang kemungkinan akan habis pada 15-20 hari lagi kecuali jika pengiriman dilanjutkan. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team