Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Turun 95 Persen imbas Perang Iran
ilustrasi kapal dagang (unsplash.com/Athanasios Papazacharias)
  • Lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun 95,3 persen sejak perang Iran melawan AS dan Israel pecah, memicu lonjakan harga pangan dan minyak dunia.
  • Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz setelah gencatan senjata, namun menutupnya lagi karena protes terhadap blokade pelabuhan oleh AS.
  • AS turut memblokade Selat Hormuz sejak 13 April untuk menekan Iran agar menyepakati perdamaian, dengan rencana memperpanjang operasi militernya di kawasan tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Lalu lintas kapal di Selat Hormuz dikabarkan sudah menurun sebesar 95,3 persen akibat perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Data tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stephane Dujarric, pada Selasa (28/4/2026).

"Transit kapal yang terkait dengan Selat Hormuz telah menurun sebesar 95,3 persen sejak (perang Iran melawan AS dan Israel yang meletus pada) 28 Februari. Sementara itu, harga komoditas pangan telah naik sebesar 6 persen dan harga minyak mentah untuk Eropa telah naik sebesar 53 persen," kata Dujarric kepada wartawan di markas besar PBB di New York, AS, seperti dilansir Anadolu Agency.

1. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan strategis dunia

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/OpenStreetMap)

Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan strategis dunia. Jalur ini menjadi andalan kapal-kapal untuk mengambil dan memasok minyak dari Timur Tengah ke pasar global, termasuk ke Indonesia. Sekitar 20 persen aktivitas ekspor dan impor minyak terjadi di selat ini. 

Sejak perang meletus pada 28 Februari lalu, Iran mulai menutup Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan sebagai balasan atas serangan AS dan Israel yang saat itu menghantam Teheran. Serangan tersebut menewaskan sejumlah tokoh penting Iran. Salah satunya adalah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. 

2. Iran sebelumnya sudah membuka kembali Selat Hormuz

potret bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)

Pada 17 April, Iran sebetulnya sudah membuka kembali Selat Hormuz secara penuh sebagai balasan karena AS bersedia menyetujui gencatan senjata. Namun, Iran kini memutuskan untuk menutup lagi selat tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk protes Iran karena AS tetap memblokade pelabuhan miliknya meski sudah ada gencatan senjata.

Blokade Selat Hormuz ini lantas membuat harga minyak beberapa waktu lalu sempat meroket sebesar enam persen. Padahal, sebelumnya, harga minyak sempat turun drastis hingga lebih dari sepuluh persen karena Iran bersedia membuka Selat Hormuz. 

3. AS juga memblokade Selat Hormuz

potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Thuan Vo)

Selain Iran, blokade Selat Hormuz juga dilakukan oleh AS. Hal ini membuat Iran dan AS kini secara praktis mengambil alih kekuasaan di selat tersebut.

AS sendiri mulai memblokade Selat Hormuz pada 13 April. Langkah ini dilakukan untuk menekan Iran agar mau menyepakati perdamaian dengan mereka. Seorang pejabat AS mengatakan, Donald Trump saat ini juga berencana untuk memperpanjang blokadenya di selat tersebut.

Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ), Trump saat ini sudah menginstruksikan para jajarannya agar segera bersiap untuk memperpanjang blokade di Selat Hormuz. Angkatan laut AS dikabarkan juga sudah siap untuk mengeksekusi operasi tersebut.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team