ilustrasi limbah elektronik (freepik.com/freepik)
Krisis limbah elektronik global saat ini sudah dalam tahap berbahaya. Dari 62 juta ton e-waste yang dihasilkan setiap tahun, kurang dari 22,3 persen yang didaur ulang dengan benar. Sisanya sering dikirim ke Asia Tenggara untuk dibakar atau diolah secara ilegal, yang menghasilkan racun dioksin dan logam berat.
"Limbah ini mengandung bahan kimia beracun seperti timbal dan raksa yang bisa mencemari tanah, laut, dan udara. Hal ini menyebabkan masalah kesehatan serius, mulai dari gangguan perkembangan anak hingga risiko kematian saat lahir," sebut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Risiko ini semakin besar di negara tropis seperti Malaysia. Curah hujan yang tinggi mempercepat penyebaran zat kimia dari tempat sampah ke sumber air dan makanan. Logam berat dari komponen elektronik bisa menumpuk di tubuh manusia dan memicu kerusakan saraf hingga gagal ginjal.
Peneliti dari Basel Action Network (BAN), Wong Pui Yi, meminta kerja sama internasional untuk menghentikan perdagangan gelap ini.
"Banyak pihak terlibat dalam bisnis ilegal ini, mulai dari pengumpul sampah di Amerika Serikat, makelar, agen pengiriman, importir, hingga pengusaha daur ulang resmi yang digunakan sebagai tameng untuk menutupi aktivitas haram mereka," kata Wong.