Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tanah longsor di pegunungan.
ilustrasi tanah longsor (pixabay.com/Sergio Cerrato)

Intinya sih...

  • Longsor terjadi imbas hujan lebat.

  • Bencana longsor juga terjadi di beberapa daerah lain di Selandia Baru.

  • Perdana Menteri Selandia Baru janji bakal membantu korban terdampak.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Bencana longsor menghantam situs perkemahan di Selandia Baru bagian utara pada Kamis (22/1/2026). Imbas insiden ini, beberapa orang, termasuk anak kecil dinyatakan hilang. Petugas penyelamat sudah melakukan pencarian terhadap beberapa korban hilang. Mereka diduga tertimbun tanah longsor karena para petugas mendengar suara teriakan dari bawah reruntuhan.

"Selagi tanah di sana masih berguncang, mereka sedang melakukan misi penyelamatan. Aku tidak bisa menyebutkan angka pasti. Aku hanya bisa mengatakan bahwa jumlah (korban) hanya satu digit,” kata Asisten Komisaris Polisi Selandia Baru, Anderson, kepada wartawan, seperti dilansir CNA.

1. Longsor terjadi imbas hujan lebat

ilustrasi hujan lebat (unsplash.com/A A)

Menurut keterangan Badan Manajemen Darurat Nasional Selandia Baru, longsor terjadi imbas hujan lebat yang melanda dalam beberapa hari terakhir. Hujan tersebut membuat area tebing yang berada di sekitar lokasi kejadian tidak bisa menahan hempasan air yang banyak sehingga terjadi longsor.

Longsor tersebut terjadi secara tidak terduga. Saat itu, bongkahan tanah besar dari tebing tiba-tiba turun hingga menimpa mobil dan beberapa bangunan kamar mandi di sekitar lokasi perkemahan. Saat longsor terjadi, ratusan orang dilaporkan masih berada di sana. Mereka teriak dan meminta pertolongan kepada pengunjung lainnya. 

"Aku mendengar orang-orang berteriak. Jadi, aku langsung memarkir mobil dan berlari untuk membantu. Aku adalah salah satu orang pertama yang sampai di sana. Ada 6 atau 8 orang lainnya di atap blok toilet dengan peralatan. Mereka mencoba membongkar atap karena kami mendengar orang-orang berteriak 'Tolong kami, tolong kami. Keluarkan kami dari sini!'," kata salah satu pengunjung, Mark Tangney.

2. Longsor juga terjadi di beberapa daerah lain di Selandia Baru

wilayah Selandia Baru (pexels.com/Josh Withers)

Bencana longsor juga menghantam daerah lain yang ada di Selandia Baru. Salah satunya adalah Papamoa, sebuah daerah yang masih berada di Selandia Baru utara. Longsor di sana menimpa sebuah rumah dan menyebabkan satu orang hilang.

Selain itu, longsor juga terjadi di sebelah utara Kota Auckland. Satu orang juga dinyatakan hilang karena terseret tanah longsor yang bercampur air imbas hujan deras. Saat ini, petugas penyelaman masih terus melakukan pencarian terhadap para korban yang masih dinyatakan hilang.

“Para kru telah bekerja tanpa lelah di seluruh pulau utara Selandia Baru dalam menghadapi peristiwa cuaca buruk ini. Dari pukul 1 pagi hari Selasa hingga pukul 8.30 pagi Kamis ini, kru kami telah menanggapi 236 panggilan terkait cuaca dari Northland hingga Bay of Plenty,” bunyi pernyataan resmi Petugas Pemadam Kebakaran dan Layanan Darurat Selandia Baru dilansir DW.

3. Perdana Menteri Selandia Baru janji bakal membantu korban terdampak

Perdana Menteri Selandia Baru, Christopher Luxon, sedang berbicara dengan mantan Presiden Indonesia, Joko Widodo. (commons.wikimedia.org/Sekretariat Presiden Republik Indonesia)

Perdana Menteri Selandia Baru, Christopher Luxon, berjanji akan memberikan bantuan sebanyak-banyaknya untuk seluruh korban terdampak longsor. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh petugas penyelamat karena sudah membantu mencari dan mengevakuasi para korban.

“Seluruh negeri berterima kasih kepada semua orang yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk menjaga keselamatan warga Selandia Baru,” katanya dilansir The Guardian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team