Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mahfud Beri Saran Prabowo Baca Teks saat Pidato, Tak Banyak Improvisasi
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD. (Tangkapan layar YouTube Mahfud MD)
  • Mahfud MD menyarankan Presiden Prabowo Subianto membaca teks saat pidato agar terhindar dari kesalahpahaman akibat improvisasi yang sering menimbulkan kontroversi.
  • Mahfud menilai pencopotan Dadan Hindayana dari jabatan Kepala BGN sudah tepat karena dianggap tidak memahami birokrasi dan sejak lama diduga bermasalah dalam pengelolaan anggaran.
  • Presiden Prabowo mengganti Dadan dengan Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN, sementara Kejagung menetapkan Dadan dan dua wakilnya sebagai tersangka kasus korupsi program Makan Bergizi Gratis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Mahfud bilang ke Pak Prabowo supaya kalau pidato baca teks saja, jangan banyak ngomong sendiri. Katanya biar tidak salah-salah lagi. Terus Pak Prabowo juga ganti orang di Badan Gizi Nasional karena Dadan yang dulu pimpinannya dicopot. Sekarang Dadan dan dua temannya katanya diduga korupsi dan sedang diperiksa jaksa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Mahfud MD, menyarankan agar Presiden Prabowo Subianto tak banyak melakukan improvisasi saat berpidato. Menurutnya, Prabowo lebih baik membaca teks saat menyampaikan pidato.

Hal tersebut disampaikan Mahfud saat menanggapi soal pencopotan Ketua Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana. Mahfud menilai, belakangan ini Prabowo mulai responsif terhadap tuntutan rakyat.

"Jadi intinya apa, Pak Prabowo sekarang mulai responsif terhadap tuntutan masyarakat. Satu, kalau berpidato, jangan banyak berimprovisasi. Karena dari improvisasi pidatonya itu selalu menimbulkan masalah. Nah, kemarin pidato dia Hari Kesaktian Pancasila kan baca teks. Aman kan? Ndak ada komentar jelek. Lalu, responsif lagi ketika Dadan Hindayana harus diganti," kata dia saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2025).

"Tapi mudah-mudahan (pencopotan Dadan) bukan hanya manuver, lalu diganti di sini, ditempatkan di sana lagi, atau besok dipanggil lagi gitu. Padahal itu bermasalah," sambung Mahfud.

1. Mahfud sebut Dadan hanya mengerti ilmu bidang serangga

Tersangka dugaan tindak pidana korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana berada di dalam mobil tahanan di Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Mahfud menyambut positif pencopotan Dadan Hindayana sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Menurutnya, pemecatan itu merupakan langkah yang tepat.

"Bagus (Dadan dicopot). Saya kira, ndak begini, orang memprotes pencopotan Dadan Hindayana itu kan sudah lama," kata dia.

Mahfud mengatakan sejak awal Dadan menjabat di pucuk kepemimpinan BGN, sudah terlihat kualitasnya. Dadan disebut hanya mengerti ilmu di bidang serangga dan tak paham birokrasi pemerintahan. Dadan sendiri merupakan lulusan terbaik S1 Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1990.

"Saya kira tidak sampai dua bulan BGN itu terbentuk, itu Dadan Hindayana sudah kelihatan hanya ngerti ilmunya, ilmu bidang serangga ya. Tetapi tidak ngerti birokrasi pemerintahan, tidak ngerti hukum anggaran dan sebagainya. Sehingga kita semua protes. Tidak paham teknokrasi dia," tegasnya.

2. Mahfud sudah lama ingatkan agar Dadan diperiksa

Eks Kepala BGN Dadan Hindayana menggunakan rompi merah muda usai diperiksa di Gedung Bundar Kejaksaan Agung (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Selain itu, Mahfud mengaku sudah lama mendorong agar BGN diperiksa secara menyeluruh. Pernyataannya itu seakan terbukti, kini Dadan dan dua wakilnya tersandung dugaan kasus korupsi.

"Sehingga kita sudah lama protes. Baru sekarang dikabulkan oleh Presiden dan ternyata di kantornya ada masalah korupsi yang didugakan oleh kejaksaan. Ya toh? Kan saya udah tiga bulan lalu sudah mengatakan, itu harus diperiksa. Anggaran sekian dipermasalahkan oleh masyarakat, kok tidak ada laporan pertanggungjawabannya kepada masyarakat. Tidak dibantah bahwa itu salah atau benar gitu. Nah sekarang meledak," ungkapnya.

3. Prabowo copot Dadan dkk

Eks Kepala BGN, Dadan Hindayana ditahan Kejagung pada Rabu (3/6/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Prabowo resmi menunjuk Wakil Kepala BGN Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN yang baru, menggantikan Dadan Hindayana. Selain itu, Prabowo juga menetapkan Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono mengisi posisi jabatan Wakil Kepala BGN yang sebelumnya dijabat Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya.

Pergantian itu disampaikan langsung oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, bersama Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, dan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), M Qodari, di Istana Merdeka Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026 malam.

Sehari setelah dicopot, Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan Dadan, Lodewyk, dan Sony sebagai tersangka korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) di BGN.

Direktur Penyidikan (Dirdik) Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, mengatakan kasus ini mulai dilidik pada 29 Mei 2026. Penetapan tersangka terhadap ketiganya dilakukan setelah pemeriksaan sebagai saksi pada Rabu, 3 Juni 2026.

“Bahwa setelah melalui serangkaian pemeriksaan saudara DH, SS dan LP berdasarkan dua alat bukti yang cukup penyidik menetapkan DH, SS dan LP sebagai tersangka,” ujar Syarief di Kejagung.

Editorial Team

Related Article