Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menhan Pakistan Sebut Israel adalah Kutukan bagi Kemanusiaan
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif (Kuhlmann /MSC, CC BY 3.0 DE <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0/de/deed.en>, via Wikimedia Commons)
  • Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyebut Israel sebagai kutukan bagi kemanusiaan melalui unggahan di media sosial, beberapa jam sebelum perundingan damai AS-Iran dimulai di Islamabad.
  • Pernyataan Asif memicu kecaman keras dari pemerintah Israel yang menilai komentarnya tidak pantas dan bersifat antisemit, terutama karena Pakistan berperan sebagai mediator perdamaian.
  • Serangan Israel di Lebanon terus meningkat dengan ribuan korban jiwa dan luka, sementara Iran menolak hadir dalam perundingan damai hingga serangan tersebut benar-benar dihentikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menyebut Israel sebagai kutukan bagi kemanusiaan dalam unggahannya di media sosial pada Kamis (9/4/2026). Pernyataan itu ia sampaikan beberapa jam sebelum delegasi Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan tiba di Islamabad untuk melakukan perundingan damai yang dimediasi oleh Pakistan.

“Israel itu jahat dan merupakan kutukan bagi kemanusiaan, sementara perundingan damai sedang berlangsung di Islamabad, genosida sedang terjadi di Lebanon,” tulis Asif dalam unggahannya di media sosial X yang kemudian di hapus.

Ia mengatakan Israel telah membunuh warga sipil yang tidak bersalah, mulai di Gaza, Iran hingga Lebanon. Ia juga mengungkapkan harapannya agar mereka yang mendirikan Israel di tanah Palestina terbakar di negara, dilansir dari Anadolu.

1. Asif dikenal vokal dalam mengkritik Israel

serangan Israel di ibu kota Iran, Teheran, dalam perang pada Juni 2025 (Mehr News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Dilansir dari Middle East Eye, Asif, anggota senior partai konservatif Liga Muslim Pakistan (Nawaz), dikenal vokal dalam mengkritik Israel. Pada 3 Maret 2026, ia juga pernah menyebut Zionisme sebagai ancaman bagi kemanusiaan.

“Sejak berdirinya Israel di tanah Palestina hingga saat ini, setiap bencana yang menimpa dunia Islam, setiap perang yang menimpanya, akan menunjukkan pengaruh langsung atau tidak langsung dari ideologi dan negara Zionis tersebut,” tulisnya di X.

2. Pejabat Asif kecam komentar Asif

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (DedaSasha, CC BY-SA 4.0 , via Wikimedia Commons)

Unggahan terbaru Asif segera menuai kecaman dari Israel. Dalam pernyataan di X, kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut komentar itu keterlaluan.

“Ini bukan pernyataan yang bisa ditoleransi dari pemerintah mana pun, terlebih lagi dari pihak yang mengklaim diri sebagai penengah netral untuk perdamaian,” kata kantor tersebut.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menyebut pernyataan Asif sebagai fitnah antisemit yang terang-terangan.

“Menyebut negara Yahudi 'kanker' berarti menyerukan pemusnahannya. Israel akan membela diri terhadap para teroris yang bersumpah untuk menghancurkannya,” tulisnya di X.

serangan Israel di Lebanon pada 2024 (Jimmyp84, CC0, via Wikimedia Commons)

Militer Israel telah mengintensifkan serangan di Lebanon sejak Rabu (8/4/2026), saat gencatan senjata antara AS dan Iran mulai berlaku. Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan sedikitnya 303 orang tewas dan 1.150 lainnya terluka. Secara keseluruhan, jumlah korban sejak perang Israel di Lebanon kembali meletus pada 2 Maret 2026 kini mencapai 1.888 orang, dengan 6.092 lainnya terluka.

Sementara itu, perundingan damai antara AS dan Iran, yang bertujuan mengakhiri perang AS-Israel terhadap Iran, dijadwalkan dimulai pada Sabtu di Islamabad. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan bahwa delegasi Iran tidak akan menghadiri perundingan tersebut sampai Israel menghentikan serangannya di Lebanon.

Baik Pakistan dan Iran menyatakan bahwa kesepakatan gencatan selama 2 pekan tersebut juga mencakup Lebanon. Namun, AS dan Israel menegaskan hal sebaliknya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team