Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Eks Menlu Iran Wafat akibat Luka Parah usai Diserang AS-Israel

Eks Menlu Iran Wafat akibat Luka Parah usai Diserang AS-Israel
potret mantan Menteri Luar Negeri Iran, Kamal Kharazi (tasnimnews.ir/Hamed Malekpour via commons.wikimedia.org/Hamed Malekpour)
Intinya Sih
  • Kamal Kharazi, mantan Menlu Iran, meninggal dunia akibat luka parah setelah kediamannya di Teheran diserang oleh Amerika Serikat dan Israel pada awal April 2026.
  • Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Kharazi, mengenangnya sebagai sahabat dekat dan diplomat bijaksana yang berkontribusi besar dalam hubungan internasional.
  • Amerika Serikat dan Israel menghentikan serangan ke Iran setelah menyepakati gencatan senjata dua pekan pada 7 April 2026, meski konflik dengan Lebanon masih terus berlangsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Kepala Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri sekaligus mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Kamal Kharazi, meninggal dunia karena mengalami luka parah akibat terkena serangan Amerika Serikat dan Israel. Kharazi dikabarkan menghembuskan napas terakhirnya pada Kamis (9/4/2026) malam waktu setempat. 

AS dan Israel sendiri menyerang kediaman Kharazi di Ibu Kota Teheran pada 1 April 2026 lalu. Istri Kharazi dikabarkan tewas di tempat akibat serangan tersebut. Sementara itu, Kharazi mengalami luka yang cukup parah sehingga harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Sayangnya, usai beberapa hari dirawat, nyawa Kharazi akhirnya tidak tertolong.

1. Perdana Menteri Malaysia berduka atas wafatnya Kharazi

Anwar Ibrahim sedang berpidato
potret Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim (flickr.com/Chatham House via commons.wikimedia.org/Chatham House)

Kematian Kharazi ini menuai respons dari Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Anwar mengaku merasa kehilangan usai mendengar Kharazi wafat karena serangan AS dan Israel. Sebab, Anwar dan Kharazi memiliki hubungan yang cukup dekat, terutama saat Kharazi masih menjabat sebagai Menlu Iran.  

“Saya pertama kali mengenal Dr. (Kamal) Kharazi selama masa jabatannya sebagai duta besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Persahabatan kami berlanjut selama masa jabatannya yang terhormat sebagai Menteri Luar Negeri (Iran). Beliau adalah seorang yang berpengetahuan luas dan memiliki kehangatan yang tulus, selalu bijaksana, dan selalu ramah,” ujar Anwar dalam unggahan di laman X pribadinya. 

“Dunia telah kehilangan seorang diplomat yang luar biasa dan saya telah kehilangan seorang sahabat. Belasungkawa terdalam saya kepada keluarganya dan kepada rakyat Iran. Kepergiannya merupakan pengingat akan harga yang mengerikan dari konflik ini. Perang ini harus diakhiri,” lanjut Anwar.

2. Kharazi pernah menjabat di sejumlah posisi strategis

Mantan Menteri Luar Negeri Iran, Kamal Kharazi, sedang memberi penghormatan terakhir kepada mendiang Sekretaris Jenderal Hizbullah, Hassan Nasrallah.
Mantan Menteri Luar Negeri Iran, Kamal Kharazi, sedang memberi penghormatan terakhir kepada mendiang Sekretaris Jenderal Hizbullah, Hassan Nasrallah. (tasnimnews.ir/ Hossein Zohrevand via commons.wikimedia.org/ Hossein Zohrevand)

Sebagai informasi, Kharazi merupakan seorang diplomat senior di Iran. Dilansir Jerusalem Post, semasa hidupnya, ia pernah menjabat di sejumlah posisi strategis pemerintahan. 

Kharazi pernah menjadi Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dari 1989 hingga 1997. Setelah tidak lagi menjabat sebagai Duta Besar, Kharrazi lantas didapuk menjadi Menlu Iran pada 1997 hingga 2005.

Sepanjang kariernya, Kharazi juga pernah menjabat di sejumlah posisi strategis lainnya. Ia pernah menjabat sebagai penasihat senior untuk Pemimpin Tertinggi Iran, kepala Pusat Ilmu Kognitif, dan anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran. 

3. AS dan Israel kini sudah menghentikan serangan ke Iran

Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
ilustrasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran (pexels.com/Saifee Art)

AS dan Israel sendiri kini sudah menghentikan serangan ke Iran. Sebab, Presiden AS, Donald Trump, sudah menyepakati gencatan senjata dengan Iran selama dua pekan pada Selasa (7/4/2026). Gencatan senjata ini akhirnya disepakati usai AS dan Israel membombardir Iran sejak 28 Februari lalu. 

Gencatan senjata ini lantas disambut baik oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Netanyahu mengatakan, keputusan tersebut sangat berguna bagi AS, Israel, dan Iran untuk mengakhiri perang.

Sayangnya, AS dan Israel menegaskan, Lebanon tidak terlibat dalam kesepakatan gencatan senjata yang sudah disetujui dengan Iran. Oleh karena itu, Israel hingga kini masih terus menyerang Lebanon. Padahal, menurut Iran, dokumen gencatan senjata yang diberikan AS sudah melibatkan Lebanon. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More