Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono mendorong kemajuan konkret dalam implementasi ASEAN Five-Point Consensus (5PC) atau Konsensus Lima Poin ASEAN sebagai upaya mewujudkan perdamaian dan rekonsiliasi nasional di Myanmar.
Hal itu disampaikan Sugiono saat menghadiri rangkaian Pertemuan Informal Menteri Luar Negeri ASEAN mengenai Myanmar di Bangkok, Thailand, Minggu (12/7/2026). Pertemuan tersebut mempertemukan para menteri luar negeri ASEAN untuk membahas perkembangan situasi di Myanmar yang masih dilanda krisis sejak kudeta militer pada 2021.
Dalam pertemuan itu, Indonesia kembali menegaskan pentingnya dialog yang inklusif sebagai jalan menuju penyelesaian konflik yang berkelanjutan.
“Indonesia menyerukan kemajuan konkret dalam implementasi Konsensus Lima Poin ASEAN, sekaligus menegaskan kembali pentingnya dialog yang inklusif untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan dan rekonsiliasi nasional di Myanmar,” ujar Sugiono.
Menlu juga menekankan setiap penyelesaian konflik harus berasal dari rakyat Myanmar sendiri dan dipimpin oleh Myanmar.
“Saya menegaskan bahwa setiap solusi yang berkelanjutan harus dimiliki oleh Myanmar dan dipimpin oleh Myanmar sendiri,” kata Sugiono dalam keterangan tertulis Kemlu RI.
Ia menambahkan, Indonesia akan terus bekerja sama dengan seluruh negara anggota ASEAN untuk menjaga perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran kawasan.
“Indonesia akan terus bekerja sama dengan negara-negara anggota ASEAN demi kawasan yang damai, stabil, dan sejahtera,” ujarnya.
Konsensus Lima Poin ASEAN disepakati para pemimpin ASEAN pada April 2021 sebagai respons terhadap krisis politik di Myanmar. Kesepakatan tersebut mencakup penghentian kekerasan, dialog konstruktif antara seluruh pihak, penunjukan utusan khusus ASEAN, penyaluran bantuan kemanusiaan, serta kunjungan utusan khusus ke Myanmar untuk bertemu semua pihak terkait. Namun hingga kini, implementasi kesepakatan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
