Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Meski Ada Gencatan Senjata, Israel Tetap Mau Serang Lebanon
potret pasukan militer Israel (IDF) (flickr.com/Israel Defense Forces via commons.wikimedia.org/Israel Defense Forces)
  • Israel menegaskan tetap akan menyerang Lebanon meski ada gencatan senjata, dengan alasan ingin membasmi Hizbullah di wilayah selatan jika kelompok itu tak menyerah dan melucuti senjata.
  • Gencatan senjata sepuluh hari antara Israel dan Lebanon tercapai berkat mediasi Amerika Serikat, disambut meriah warga Beirut serta diapresiasi negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Yordania.
  • Presiden AS Donald Trump meminta Hizbullah mematuhi gencatan senjata agar tidak memperburuk situasi, sementara ribuan korban jiwa dan pengungsi masih terdampak akibat serangan sebelumnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Israel menegaskan akan tetap menyerang Lebanon meski saat ini sudah ada kesepakatan gencatan senjata. Pernyataan tersebut diumumkan langsung oleh pasukan militer Israel (IDF) pada Jumat (17/4/2026).

Dalam pernyataannya, IDF mengatakan akan menyerang Lebanon selatan untuk membasmi Hizbullah. Sebab, beberapa anggota dan pasukan milisi tersebut dikabarkan masih ada di sana. Kendati begitu, IDF mengatakan serangan tidak akan dilakukan jika Hizbullah bersedia menyerah dan melucuti senjata mereka.

1. Israel-Lebanon sudah menyepakati gencatan senjata berkat mediasi Amerika Serikat

ilustrasi gencatan senjata (pexels.com/Efe Ersoy)

Israel dan Lebanon sendiri sudah menyepakati gencatan senjata selama sepuluh hari pada Kamis (16/4/2026). Kesepakatan tersebut diraih berkat mediasi dari Amerika Serikat. Gencatan senjata ini membuat Lebanon bisa bernapas lega setelah berulang kali diserang Israel yang ingin membasmi milisi Hizbullah sejak 2 Maret 2026 lalu. 

Usai gencatan senjata diumumkan, ratusan warga Lebanon di Ibu Kota Beirut ramai-ramai turun ke jalan. Mereka merayakan perdamaian dengan Israel meski hanya akan berjalan selama sepuluh hari. Hal ini karena warga Lebanon sudah lama menunggu gencatan senjata agar tidak terus terdampak serangan Israel.  

2. Gencatan senjata Israel-Lebanon disambut baik oleh negara Timur Tengah

potret negara-negara Timur Tengah (pexels.com/Lara Jameson)

Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon ini disambut baik oleh empat negara di Kawasan Timur Tengah, yakni Arab Saudi, Suriah, Yordania, dan Oman. Mereka menyebut gencatan senjata antara Israel dan Lebanon sebagai langkah tepat untuk meredam konflik di Timur Tengah yang belakangan makin panas. 

Oleh karena itu, Arab Saudi, Suriah, Yordania, dan Oman meminta kedua pihak, yakni Israel dan Lebanon untuk saling mematuhi gencatan senjata yang sedang berlangsung. Ini bertujuan agar perang di antara kedua negara tidak kembali meletus. Mereka juga berharap gencatan senjata antara Israel dan Lebanon bisa berubah menjadi kesepakatan perdamaian jangka panjang.

3. Donald Trump meminta Hizbullah untuk mematuhi gencatan senjata

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berpidato di Gedung Putih. (commons.wikimedia.org/The Trump White House)

Dalam kesempatan lain, Presiden AS, Donald Trump, juga mengingatkan Hizbullah untuk menghormati gencatan senjata dengan Israel. Mereka tidak boleh melakukan serangan terhadap Israel selama gencatan senjata berlangsung. 

“Saya harap Hizbullah bertindak dengan baik dan benar selama periode penting ini. Ini akan menjadi momen yang luar biasa bagi mereka jika mereka melakukannya. Tidak ada lagi pembunuhan karena pada akhirnya harus ada kedamaian!” kata Trump di Truth Social dilansir Al Jazeera

Sejauh ini, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan 2.055 orang. Sementara itu, hampir 6.600 orang lainnya mengalami luka-luka. Di sisi lain, lebih dari 1,2 juta orang di Lebanon juga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk menghindari serangan Israel.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team