Lebanon Tegaskan Ingin Damai dengan Israel

- Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menegaskan keinginan mengubah gencatan senjata sepuluh hari dengan Israel menjadi perdamaian permanen agar serangan tidak terulang.
- Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat disambut meriah warga Lebanon dan diapresiasi negara-negara Timur Tengah sebagai langkah meredam konflik regional.
- Meski ada gencatan senjata, militer Israel tetap bersiap menyerang Lebanon selatan jika Hizbullah tidak menyerah dan melucuti senjatanya.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Lebanon ingin kesepakatan gencatan senjata dengan Israel diubah menjadi perdamaian permanen. Keinginan tersebut disampaikan oleh Presiden Lebanon, Joseph Aoun, melalui siaran televisi nasional pada Jumat (17/4/2026). Itu menjadi pernyataan pertamanya untuk merespons gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Dalam pernyataannya, Aoun mengatakan, gencatan senjata harus berubah menjadi kesepakatan perdamaian agar Israel tidak kembali menyerang Lebanon. Sebab, gencatan senjata yang sudah disepakati kedua pihak hanya akan berjalan sepuluh hari. Jika gencatan senjata berakhir, Israel bisa dengan mudah menyerang Lebanon lagi.
"Hari ini, kita bernegosiasi dan memutuskan sendiri. Kita bukan lagi kartu dalam permainan siapa pun, bukan pula arena perang siapa pun, dan kita tidak akan pernah menjadi seperti itu lagi," kata Aoun, seperti dilansir Jerusalem Post.
1. Israel-Lebanon sudah menyepakati gencatan usai dimediasi Amerika Serikat

Israel dan Lebanon sendiri sudah menyepakati gencatan senjata selama sepuluh hari pada Kamis (16/4/2026). Kesepakatan tersebut diraih berkat mediasi dari Amerika Serikat. Gencatan senjata ini membuat Lebanon bisa bernapas lega setelah berulang kali diserang Israel yang ingin membasmi milisi Hizbullah sejak 2 Maret 2026 lalu.
Usai gencatan senjata diumumkan, ratusan warga Lebanon di Ibu Kota Beirut ramai-ramai turun ke jalan. Mereka merayakan perdamaian dengan Israel meski hanya akan berjalan selama sepuluh hari. Hal ini karena warga Lebanon sudah lama menunggu gencatan senjata agar tidak terus terdampak serangan Israel.
Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon ini disambut baik oleh empat negara di Kawasan Timur Tengah, yakni Arab Saudi, Suriah, Yordania, dan Oman. Mereka menyebut gencatan senjata antara Israel dan Lebanon sebagai langkah tepat untuk meredam konflik di Timur Tengah yang belakangan makin panas. Mereka juga meminta Israel dan Lebanon untuk saling mematuhi gencatan senjata yang sedang berlangsung.
2. Donald Trump meminta Hizbullah untuk mematuhi gencatan senjata

Dalam kesempatan lain, Presiden AS, Donald Trump, juga mengingatkan Hizbullah untuk menghormati gencatan senjata dengan Israel. Mereka tidak boleh melakukan serangan terhadap Israel selama gencatan senjata berlangsung.
“Saya harap Hizbullah bertindak dengan baik dan benar selama periode penting ini. Ini akan menjadi momen yang luar biasa bagi mereka jika mereka melakukannya. Tidak ada lagi pembunuhan karena pada akhirnya harus ada kedamaian!” kata Trump di Truth Social dilansir Al Jazeera.
3. Israel tetap mau serang Lebanon meski ada gencatan senjata

Meski sudah ada kesepakatan gencatan senjata, pasukan militer Israel (IDF) menegaskan ingin tetap menyerang Lebanon. Padahal, gencatan senjata antara kedua pihak baru berjalan pada Kamis lalu.
Dalam pernyataannya, IDF mengatakan akan menyerang Lebanon selatan untuk membasmi Hizbullah. Sebab, beberapa anggota dan pasukan milisi tersebut dikabarkan masih ada di sana.
Kendati begitu, IDF mengatakan serangan tidak akan dilakukan jika Hizbullah bersedia menyerah dan melucuti senjata mereka. Namun, jika Hizbullah tetap enggan menyerah, IDF menegaskan tidak akan segan-segan untuk mengangkat senjata mereka.
















