Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Militan Lancarkan Serangan Bom Mobil di Pakistan, 15 Polisi Tewas
ilustrasi bom (pixabay.com/Anthony-X)
  • Serangan bom mobil di pos polisi Bannu, Khyber Pakhtunkhwa, menewaskan sedikitnya 15 polisi dan melibatkan lebih dari 100 militan bersenjata berat.
  • Kelompok Ittehad-ul-Mujahideen mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut; organisasi ini merupakan aliansi beberapa kelompok militan yang aktif di wilayah Pakistan barat laut.
  • Pemerintah Pakistan menuding Afghanistan melindungi kelompok militan, sementara ketegangan diplomatik kedua negara meningkat hingga memicu bentrokan bersenjata lintas perbatasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kelompok militan meledakkan bom di sebuah pos pemeriksaan polisi dan menembaki para petugas di wilayah barat laut Pakistan. Serangan tersebut mengakibatkan sedikitnya 15 polisi tewas.

Polisi mengatakan, salah satu pelaku menabrakkan mobil berisi bahan peledak ke pos pemeriksaan di kota Bannu, provinsi Khyber Pakhtunkhwa, pada Sabtu (9/5/2026) malam. Setelah ledakan terjadi, sejumlah pria bersenjata memasuki gedung di sebelahnya dan menembaki para petugas yang tersisa. Unit bantuan yang bergegas ke lokasi juga diserang.

1. Lebih dari 100 militan terlibat dalam serangan di Bannu

ilustrasi tempat kejadian perkara (pexels.com/kat wilcox)

Foto dari lokasi kejadian menunjukkan pos pemeriksaan tersebut hancur menjadi puing-puing, dengan logam dan reruntuhan berserakan di sekitarnya. Polisi mengatakan sedikitnya tiga petugas berhasil ditarik keluar dari reruntuhan hidup-hidup dan dibawa ke rumah sakit. Kondisi mereka kini dilaporkan stabil.

“Tindakan pengecut ekstremis ini tidak dapat ditoleransi dan darah mereka yang terbunuh akan dipertanggungjawabkan,” kata pejabat kepolisian Bannu, Muhammad Sajjad Khan. Ia menyebutkan bahwa lebih dari 100 militan terlibat dalam serangan tersebut.

Dilansir DW, seorang pejabat administrasi senior di Bannu yang berbicara secara anonim mengungkapkan bahwa para militan menggunakan pesawat nirawak quadcopter dan persenjataan berat dalam serangan tersebut.

Dalam pernyataannya, Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban. Ia menegaskan bahwa rakyat dan pemerintah Pakistan mendukung penuh aparat keamanan dalam menghadapi terorisme.

2. Ittehad-ul-Mujahideen klaim sebagai dalang di balik serangan tersebut

ilustrasi serangan penembakan (unsplash.com/Maxim Hopman)

Dilansir BBC, kelompok militan bernama Ittehad-ul-Mujahideen telah mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Menurut Institut Studi Konflik dan Keamanan Pakistan, Ittehad-ul-Mujahideen dibentuk pada April 2025 dari aliansi Hafiz Gul Bahadur Group (HBG), Laskar-e-Islam dan Harkat Inqilab-e-Islami Pakistan (HIIP).

HBG diketahui kerap melancarkan serangan kekerasan di Bannu. Sementara itu, Pusat Pemberantasan Terorisme di West Point di Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa Laskar-e-Islam bersekutu dengan kelompok militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) atau yang juga sebagai Taliban Pakistan.

3. Pakistan tuduh pemerintah Afghanistan lindungi militan

bendera Pakistan (unsplash.com/Abuzar Xheikh)

Serangan kelompok bersenjata kerap terjadi di Pakistan. Pada Februari lalu, puluhan orang tewas dan lebih dari 160 lainnya terluka dalam serangan bom bunuh diri di sebuah masjid di ibu kota, Islamabad. Serangan itu diklaim dilakukan oleh kelompok ISIS.

Insiden tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah serangkaian serangan senjata dan bom di provinsi Balochistan, wilayah barat daya Pakistan yang dilanda gerakan separatis.

Pemerintah Pakistan telah lama menuduh Afghanistan melindungi kelompok militan yang menggunakan wilayah negara itu untuk merencanakan serangan di Pakistan. Namun, pemerintahan Taliban di Afghanistan membantah tuduhan tersebut.

Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan diplomatik antara kedua negara berkembang menjadi konflik bersenjata, termasuk serangan udara Pakistan ke sejumlah kota di Afghanistan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team