Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Negara-negara Teluk Desak Trump Lanjutkan Perang Lawan Iran
potret negara-negara Teluk (pexels.com/Lara Jameson)
  • Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Bahrain mendesak Presiden AS Donald Trump melanjutkan perang untuk menjatuhkan rezim Iran yang dipimpin Mojtaba Khamenei.
  • Oman dan Qatar memilih bersikap netral serta mendorong penyelesaian konflik Iran-AS melalui jalur diplomasi, bukan militer, demi menghindari perang berkepanjangan di kawasan.
  • Perang antara Iran dengan AS dan Israel terus memanas meski ada proposal perdamaian; Iran menolak karena dianggap menguntungkan AS, sementara Trump mengklaim sebaliknya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Negara-negara Teluk yang terdiri dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain dikabarkan telah meminta Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk melanjutkan perang melawan Iran. Kabar tersebut termuat dalam laporan AP pada Senin (30/3/2026) yang dikutip Jerusalem Post pada Selasa (31/3/2026).

Desakan tersebut muncul karena negara Teluk ingin menjatuhkan rezim pemerintahan Iran yang kini dipimpin Mojtaba Khamenei. Ini diperlukan agar kekuatan Iran runtuh sehingga mereka tidak akan menjadi ancaman lagi bagi negara-negara di Kawasan Timur Tengah, khususnya negara Teluk. Sebab, selain melakukan serangan balasan ke AS dan Israel, Iran kini juga melakukan serangan ke negara-negara Teluk yang punya kedekatan dengan AS.

1. Kekuatan militer Iran dinilai masih mumpuni

ilustrasi pasukan militer (pexels.com/Thang Cao)

Untuk menjatuhkan pemerintahan Iran, negara Teluk butuh bantuan AS dan Israel untuk terus menggempur mereka. Sebab, kekuatan militer Iran kini dinilai masih cukup mumpuni untuk menyerang AS, Israel, dan negara-negara lain di Timur Tengah, termasuk negara Teluk. 

Sebetulnya, AS dan Israel sudah sering menyerang fasilitas-fasilitas kritis milik Iran. Pada Sabtu (28/3/2026) dan Minggu (29/3/2026) lalu, misalnya, Israel mengklaim berhasil melancarkan serangan udara ke sekitar 40 fasilitas produksi senjata milik Iran. Serangan ini bertujuan untuk melemahkan kekuatan Iran agar mereka tidak bisa melawan AS dan Israel. 

Alih-alih melemah, kekuatan Iran disebut masih stabil. Oleh karena itu, negara mayoritas Islam Syiah tersebut masih bisa melakukan serangan balasan ke AS, Israel, dan negara-negara Teluk yang bekerja sama dengan AS hingga saat ini.  

2. Negara Teluk lainnya bersikap netral

potret bendera Qatar (pexels.com/monk 333)

Berbeda dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain, negara Teluk lainnya, yakni Oman dan Qatar memilih tetap bersikap netral. Menurut sumber anonim internal pemerintah Oman dan Qatar, mereka cenderung menyarankan agar AS dan Iran duduk bersama di meja perundingan untuk mengakhiri perang. 

Menurut Oman dan Qatar, cara damai akan lebih efektif dan efisien untuk mengakhiri perang ketimbang cara militer. Sebab, alih-alih menyelesaikan perang, cara-cara militer justru akan memperkeruh konflik sehingga perang jadi berlarut-larut. 

Namun, negara Teluk lainnya, terutama Arab Saudi, justru menganggap cara diplomasi tidak akan mampu meredam perang. Sebab, mereka percaya Iran akan tetap melancarkan serangan balasan jika tidak dilumpuhkan. 

3. Perang antara Iran dengan AS dan Israel makin panas

ilustrasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Hingga saat ini, perang antara Iran dengan AS dan Israel masih berlangsung. Bahkan, makin panas. Sebab, AS dan Israel hingga kini masih menyerang Iran. Begitu pula sebaliknya. Iran juga masih melancarkan serangan balasan ke kedua negara tersebut.

Untuk mengakhiri perang, AS sebetulnya sudah memberikan proposal perdamaian kepada Iran. Proposal tersebut diserahkan ke Iran lewat perantara yang ada di Pakistan. Sayangnya, setelah melakukan peninjauan, Iran memutuskan untuk menolak proposal tersebut karena dinilai hanya menguntungkan AS. 

Namun, dalam konferensi pers yang digelar di pesawat Air Force One pada Minggu, Trump memberikan pernyataan berbeda. Ia mengklaim Iran sudah menyetujui semua isi yang ada di dalam proposal perdamaian yang diusulkan oleh AS beberapa waktu lalu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team