Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Organisasi Muslim AS Desak Trump Setop Serang Iran
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • CAIR mendesak Presiden Donald Trump menghentikan serangan terhadap Iran karena dianggap mengabaikan nilai kemanusiaan dan mencederai keyakinan agama umat Muslim.
  • Organisasi tersebut juga mengecam unggahan media sosial Trump yang memakai frasa bernuansa Islam untuk melegitimasi ancaman, dinilai merendahkan martabat umat Muslim di seluruh dunia.
  • Iran tetap menutup Selat Hormuz bagi kapal AS dan Israel serta menuntut pengakuan kedaulatan atas wilayah itu, namun AS menolak dengan alasan pelanggaran hukum internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Organisasi Muslim Amerika Serikat (AS), The Council on American-Islamic Relations (CAIR), mendesak Presiden AS Donald Trump untuk berhenti memerangi Iran. Sebab, CAIR menilai serangan AS terhadap Iran adalah bentuk ketidakpedulian terhadap nyawa dan kehidupan manusia. 

"(Serangan AS terhadap Iran) mencerminkan ketidakpedulian terhadap nyawa manusia dan penghinaan terhadap keyakinan agama," bunyi pernyataan resmi CAIR yang dirilis pada Minggu (5/4/2026), seperti dilansir Anadolu Agency.

1. CAIR juga mengecam unggahan media sosial kontroversial Trump

ilustrasi media sosial (pexels.com/Bastian Riccardi)

Dalam pernyataannya, CAIR juga mengecam unggahan kontroversial Trump di akun media sosial pribadinya. Sebab, dalam unggahan tersebut, Trump menyematkan kata-kata bernuansa Islam untuk melegitimasi ancaman serangan terhadap Iran. 

“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan. Semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu! Buka selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka. Lihat saja! Segala puji bagi Allah,” tulis Trump di Truth Social pada Minggu.

Menurut CAIR, unggahan Trump tersebut telah merendahkan martabat umat Muslim, baik yang ada di AS maupun di seluruh dunia. Sebab, kata-kata bernuansa Islam, seperti “Segala puji bagi Allah” tidak seharusnya digunakan dalam konteks menebar ancaman kepada Iran. Sebab, menurut mereka, Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan kekerasan dengan alasan apa pun. 

2. Trump mengultimatum Iran untuk membuka Selat Hormuz

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Sebagai informasi, unggahan tadi dibuat Trump dengan tujuan untuk mengultimatum Iran agar segera membuka Selat Hormuz. Sebab, hingga saat ini, Iran masih menutup akses selat tersebut untuk kapal-kapal dari AS dan Israel

Sebetulnya, Iran kini sudah mengizinkan kapal dari sejumlah negara untuk berlayar di Selat Hormuz. Namun, Iran tetap menutup selat tersebut untuk AS dan Israel karena mereka merupakan negara yang memicu terjadinya perang.

Ada sejumlah negara yang kini sudah mengantongi izin dari Iran agar kapalnya bisa berlayar di Selat Hormuz. Beberapa di antaranya, seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, China, Jepang, Irak, dan Rusia. 

3. Iran ingin menguasai Selat Hormuz

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

Meski sudah mengizinkan sejumlah kapal untuk berlayar, Iran tetap bersikukuh ingin menguasai Selat Hormuz. Bahkan, Iran meminta AS dan Israel untuk mengakui kedaulatan mereka di selat tersebut. Ini juga menjadi salah satu syarat yang diberikan Iran kepada AS dan Israel untuk mengakhiri perang. 

Namun, Negeri Paman Sam menolak mentah-mentah permintaan Iran untuk menguasai Selat Hormuz. Sebab, menurut AS, tindakan tersebut ilegal dan melanggar hukum internasional. 

“Ini bukan hanya ilegal, tetapi juga tidak dapat diterima, berbahaya bagi dunia, dan penting bagi dunia untuk memiliki rencana untuk menghadapinya,” kata Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dilansir CNN.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team