Israel Peringatkan Warga Iran Jangan Naik Kereta, Kenapa?

- Militer Israel memperingatkan warga Iran agar tidak menggunakan kereta api karena potensi ancaman terhadap infrastruktur sipil, memicu kekhawatiran pelanggaran hukum humaniter internasional.
- Tenggat ultimatum Presiden Donald Trump menekan Iran untuk menerima kesepakatan baru, namun negosiasi mandek setelah Teheran menolak proposal gencatan senjata dan mengajukan tawaran tandingan.
- Eskalasi konflik meningkat dengan serangan udara saling balas antara Israel dan Iran, meluas hingga Arab Saudi serta mendorong lonjakan harga minyak dunia di atas 110 dolar AS per barel.
Jakarta, IDN Times - Ketegangan antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat, menjelang berakhirnya tenggat negosiasi yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump. Israel bahkan mengeluarkan peringatan langsung kepada warga sipil Iran, untuk menghindari penggunaan transportasi kereta api.
Dalam pernyataan berbahasa Farsi yang dirilis militer Israel, warga Iran diminta menjauhi perjalanan menggunakan kereta sejak pagi hingga malam hari waktu setempat. Peringatan ini secara eksplisit menyebut potensi ancaman terhadap jalur transportasi sipil.
Langkah tersebut muncul hanya beberapa jam sebelum ultimatum dari Trump berakhir. Tenggat waktu itu diberikan sebagai tekanan agar Iran menerima kesepakatan tertentu, dengan ancaman eskalasi jika negosiasi gagal.
Di sisi lain, retorika dari Washington juga semakin keras. Trump kembali menegaskan kesiapan militernya untuk melancarkan serangan besar terhadap Iran dalam waktu singkat.
“Iran bisa dilumpuhkan dalam satu malam dan malam itu mungkin besok,” kata Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, dilansir dari The Guardian, Selasa (7/4/2026).
Situasi ini memperlihatkan jalur diplomasi masih berjalan, namun dibayangi ancaman serangan besar yang dapat memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.
1. Israel peringatkan warga, infrastruktur sipil terancam

Militer Israel secara terbuka memperingatkan warga Iran agar tidak menggunakan kereta api, maupun berada di sekitar jalur rel pada hari yang sama dengan tenggat negosiasi.
“Mulai saat ini, hingga pukul 21.00 waktu Iran, sebaiknya Anda menghindari bepergian dengan kereta di seluruh Iran, demi keselamatan Anda,” demikian pernyataan militer Israel.
Peringatan itu dilanjutkan dengan kalimat yang lebih tegas, “Keberadaan Anda di kereta dan di dekat jalur rel membahayakan hidup Anda.”
Pernyataan tersebut mengindikasikan infrastruktur sipil seperti stasiun dan rel kereta berpotensi menjadi target serangan. Hal ini memicu kekhawatiran luas, karena fasilitas tersebut digunakan masyarakat umum.
Ancaman terhadap infrastruktur sipil ini menuai kritik dari sejumlah pakar hukum internasional. Mereka menilai serangan semacam itu berpotensi melanggar hukum humaniter, karena dampaknya yang luas terhadap warga sipil.
2. Ultimatum Trump dan negosiasi yang mandek

Ketegangan meningkat seiring mendekatnya tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Donald Trump, Selasa pukul 20.00 waktu AS bagian timur. Ultimatum tersebut dimaksudkan untuk memaksa Iran menerima konsesi besar dalam negosiasi, dengan ancaman eskalasi militer jika tidak tercapai kesepakatan.
Namun, Iran sebelumnya menolak proposal gencatan senjata segera yang dimediasi Pakistan, Mesir, dan Turki. Teheran mengajukan proposal tandingan berisi 10 poin. Trump mengakui adanya proposal tersebut, tetapi menilainya tidak memadai. Ia menyebut tawaran itu tidak cukup baik.
Di tengah kebuntuan tersebut, pernyataan keras terus bermunculan dari kedua belah pihak, menandakan ruang kompromi masih sangat terbatas menjelang tenggat.
3. Serangan berlanjut, eskalasi kian luas

Di lapangan, konflik terus berlangsung tanpa jeda. Media Iran melaporkan Bandara Khorramabad di Iran barat diserang, sementara Israel mengklaim telah melancarkan gelombang serangan baru ke Teheran.
Militer Israel juga menyebut telah membombardir fasilitas petrokimia di Shiraz, serta lokasi peluncuran rudal balistik di Iran barat laut.
Sementara, pejabat AS mengungkapkan, pesawat pengebom siluman B-2 menjatuhkan bom penghancur bunker seberat 30.000 pon ke fasilitas Garda Revolusi Iran di Teheran beberapa hari sebelumnya.
Di sisi lain, Iran terus melakukan serangan balasan. Sirene peringatan berbunyi di Israel, setelah serangan rudal balistik diluncurkan, termasuk yang menggunakan hulu ledak klaster.
Konflik juga meluas ke kawasan lain. Serangan dilaporkan mengenai kompleks petrokimia di kota Jubail, Arab Saudi, sementara harga minyak dunia ikut terdongkrak hingga di atas 110 dolar AS per barel.


















