Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Penyakit Kulit Melonjak di Kamp Padat Pengungsi Gaza
Imbas serangan Israel sejak 7 Oktober 2023, warga Gaza menghadapi kelaparan hampir tiap harinya. WHO menyerukan akses segera untuk bantuan kemanusian. (x.com/Tedros Adhanom Ghebreyesus)
  • PBB memperingatkan lonjakan penyakit kulit di kamp pengungsi Gaza akibat kepadatan, sanitasi buruk, dan kekurangan obat, dengan kasus meningkat tiga kali lipat sejak awal tahun.
  • Krisis pangan makin parah, jutaan warga Gaza hanya makan sekali sehari karena akses bantuan terbatas dan harga pangan segar melonjak tajam.
  • Meski gencatan senjata berlaku, blokade Israel masih menghambat masuknya bantuan medis dan pangan, memperburuk kondisi kemanusiaan serta menambah jumlah korban sipil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan munculnya krisis kesehatan baru di Jalur Gaza, seiring melonjaknya infeksi penyakit kulit di kamp-kamp pengungsi yang padat. Kondisi ini diprediksi akan memburuk saat suhu meningkat menjelang musim panas yang menciptakan kondisi berbahaya bagi jutaan pengungsi.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan jumlah infeksi kulit meningkat tiga kali lipat dalam beberapa bulan terakhir. Di lokasi pengungsian, jumlah infeksi melonjak dari 3 ribu kasus pada Januari menjadi hampir 10 ribu kasus pada Maret lalu.

Kombinasi dari kepadatan penduduk, tumpukan sampah, dan sanitasi yang hancur menciptakan lingkungan subur bagi penyebaran kudis, cacar air, kutu, dan infeksi bakteri lainnya.

"Kami tinggal di atas tumpukan sampah bersama kutu dan tikus," kata Fawzi al-Najjar, seorang pengungsi di kamp yang sesak, dilansir Al Jazeera.

1. PBB desak pembukaan blokade dan akses masuk obat-obatan

Badai Byron telah memperparah penderitaan rakyat Palestina yang telah kehilangan segalanya akibat Perang Israel di Gaza sejak Oktober 2023. (x.com/UNLazzarini)

Meski gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025, blokade Israel masih membatasi ketat masuknya pasokan medis esensial. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mendesak akses bantuan segera untuk masuknya sampo anti kutu, losion, perlengkapan kebersihan, pestisida, dan insektisida, guna mencegah keadaan darurat kesehatan masyarakat dan mencegah kerugian lebih lanjut bagi warga sipil.

Di Khan Younis, upaya disinfeksi 200 ribu tenda pengungsi terhambat karena kelangkaan pestisida. Hingga saat ini, baru sekitar 25 persen area yang berhasil ditangani.

Petugas medis di lapangan, termasuk Salim Ramadan, seorang dokter umum di Gaza, menyatakan bahwa menangani wabah ini hampir mustahil tanpa obat-obatan dan fasilitas kebersihan yang layak.

"Penyakit menyebar cepat karena kontak fisik di tempat yang sesak, sementara ventilasi dan nutrisi yang dibutuhkan pasien untuk pulih sama sekali tidak tersedia," ujarnya.

Krisis ini membangkitkan trauma tahun 2024, di mana saat itu setidaknya 150 ribu orang menderita penyakit serupa akibat kekurangan peralatan medis selama perang berlangsung. Tanpa intervensi internasional yang cepat, Gaza terancam menghadapi bencana kesehatan massal di musim panas ini.

2. PBB: Kelaparan di Gaza kian akut, keluarga bertahan dengan satu kali makan sehari

Perang yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023, telah menyebabkan bencana kelaparan hingga malnutrisi pada warga Palestina. Pembatasan militer Israel telah memblokir bantuan selama berbulan-bulan. (x.com/UNLazzarini)

Pada Rabu (6/5/2026), PBB juga memperingatkan bahwa krisis pangan di Jalur Gaza semakin memburuk. Jutaan warga masih terjebak dalam kelaparan ekstrem dengan akses bantuan yang sangat terbatas.

Dujarric mengungkapkan data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menunjukkan sekitar 2,1 juta orang kini berdesakan di wilayah yang kurang dari separuh luas Jalur Gaza. Penyempitan wilayah ini memutus akses warga terhadap lahan pertanian produktif, fasilitas sanitasi dan pembuangan limbah, serta layanan kesehatan spesialis yang hanya tersedia di luar Gaza atau Tepi Barat.

"Evakuasi medis yang diizinkan hanya mencakup sebagian kecil dari ribuan orang yang membutuhkan perawatan mendesak setiap harinya," kata Dujarric.

Meskipun Program Pangan Dunia (WFP) dan mitra kemanusiaan menyalurkan 1,1 juta porsi makanan harian melalui 120 dapur umum, jumlah tersebut belum mampu menghentikan krisis.

Satu dari lima keluarga kini dilaporkan hanya makan satu kali sehari. Harga pangan segar yang melonjak, tidak terjangkau bagi mayoritas penduduk, sehingga membuat warga sepenuhnya bergantung pada bantuan paket makanan. Sementara itu, tingkat malnutrisi, terutama pada anak-anak, tetap berada di level yang mengkhawatirkan.

3. Hambatan bantuan dan dampak perang

Potret kehancuran yang ditimbulkan oleh serangan udara Israel di Jalur Gaza. (x.com/UNICEFpalestine)

Dujarric menegaskan bahwa PBB terus mendesak otoritas Israel dan Amerika Serikat untuk mempermudah akses bantuan. Namun, kemajuan di lapangan sangat minim.

"Kami tahu apa yang dibutuhkan, tetapi kami tidak mendapatkannya. Kami tidak mengendalikan sistem perbatasan," ungkapnya.

Sejak awal perang pada Oktober 2023, serangan Israel telah membunuh lebih dari 72 ribu warga Palestina dan melukai 172 ribu lainnya. Walaupun gencatan senjata telah dideklarasikan, operasi militer dan blokade yang masih berlangsung terus menambah daftar korban warga sipil dan memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah kantong tersebut. Dilaporkan, 837 kematian baru dan ribuan luka-luka tercatat dalam periode terakhir, Anadolu Agency melaporkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team