Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Hamas Tuduh Israel Ingin Kacaukan Gaza dengan Bunuh Polisi

Hamas Tuduh Israel Ingin Kacaukan Gaza dengan Bunuh Polisi
serangan Israel di Jalur Gaza (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Serangan udara Israel di Gaza menewaskan tiga orang termasuk dua polisi, memicu tuduhan Hamas bahwa Israel sengaja menciptakan kekacauan dan ketidakamanan di wilayah tersebut.
  • Hamas mengecam serangan terhadap aparat kepolisian sebagai upaya mempertahankan kondisi tanpa hukum, serta mendesak komunitas internasional menekan Israel agar menghentikan agresi dan melindungi warga Palestina.
  • Laporan MSF menyebut pembatasan bantuan oleh Israel menyebabkan krisis malnutrisi parah di Gaza, berdampak besar pada bayi dan ibu hamil, sementara ribuan warga sipil terus menjadi korban perang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Israel terus melancarkan serangan di Jalur Gaza meski adanya gencatan senjata. Sedikitnya tiga orang, termasuk dua polisi, tewas dalam serangan pada Minggu (10/5/2026).

Dilansir dari The New Arab, Kementerian Dalam Negeri Gaza mengatakan, kepala kepolisian kriminal di Khan Younis, Wessam Abdel-Hadi, dan ajudannya tewas setelah serangan udara Israel menghantam kendaraan mereka. Sementara itu, satu orang lainnya tewas dalam serangan di kamp pengungsi Maghazi.

“Meskipun gencatan senjata telah berlaku beberapa bulan lalu, pendudukan masih terus menargetkan petugas polisi untuk menimbulkan kekacauan di antara masyarakat di negara yang sama,” kata Ali Mousa, salah satu pelayat yang menghadiri pemakaman para polisi.

1. Hamas sebut Israel ingin pertahankan ketidakamanan dan kekacauan di Gaza

tentara Israel dalam operasi darat di Jalur Gaza
tentara Israel dalam operasi darat di Jalur Gaza (IDF Spokesperson's Unit)

Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, turut mengecam serangan tersebut. Pihaknya mengatakan bahwa serangan Israel terhadap fasilitas dan personel kepolisian bertujuan mempertahankan ketidakamanan dan kekacauan di Gaza.

“Serangan Israel terhadap pasukan kepolisian di Gaza merupakan kelanjutan dari kejahatan dan terorisme pendudukan terhadap rakyat kami untuk mempertahankan kondisi tanpa hukum, menebar kekacauan, dan menghambat segala upaya pemulihan serta pengembalian situasi normal di Gaza,” kata Hamas dalam pernyataannya, dikutip dari Anadolu.

Kelompok itu lantas mendesak komunitas internasional, mediator, dan para penjamin perjanjian gencatan senjata untuk memaksa Israel agar menghentikan agresi dan pelanggaran yang dilakukan setiap harinya. Selain itu, mereka juga menyerukan pemberian perlindungan dan bantuan kepada rakyat Palestina.

2. 850 warga Palestina di Gaza tewas sejak gencatan senjata

kehancuran di Jalur Gaza akibat serangan militer Israel
kehancuran di Jalur Gaza akibat serangan militer Israel (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Meski gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah diberlakukan sejak Oktober 2025, Israel masih terus melancarkan serangan di Gaza hampir setiap hari. Petugas medis setempat melaporkan sedikitnya 850 warga Palestina telah terbunuh sejak gencatan senjata berlaku.

Sementara itu, menurut otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 72.500 orang tewas sejak perang di Gaza dimulai pada Oktober 2023. Sebagian besar dari mereka merupakan warga sipil. Perang tersebut juga menyebabkan kehancuran luas yang berdampak pada 90 persen infrastruktur sipil.

3. Israel batasi bantuan untuk ciptakan krisis malnutrisi di Faza

ilustrasi anak-anak di gaza (pixabay.com/hosnysalah)
ilustrasi anak-anak di gaza (pixabay.com/hosnysalah)

Laporan terbaru dari Dokter Lintas Batas (MSF) menyebutkan bahwa Israel menciptakan krisis malnutrisi di Gaza dengan sengaja membatasi makanan dan bantuan. Dampaknya dinilai sangat berbahaya, terutama bagi bayi serta perempuan hamil dan menyusui.

“Tingkat kematian neonatal dua kali lebih tinggi pada bayi yang lahir dari ibu yang mengalami malnutrisi dibandingkan dengan bayi yang lahir dari ibu tanpa malnutrisi,” kata organisasi bantuan medis tersebut, dikutip dari TRT.

MSF juga meneliti data dari 513 bayi berusia di bawah 6 bulan yang menjalani program pemberian makanan terapeutik rawat jalan di Khan Younis antara Oktober 2024 hingga Desember 2025. Hasilnya, 91 persen dari mereka berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Pada April 2026, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa Israel menolak atau menghalangi hampir setengah dari pergerakan bantuan kemanusiaan yang terkoordinasi di Gaza meskipun adanya kesepakatan gencatan senjata. Menurut kelompok hak asasi manusia Euro-Med Human Rights Monitor, kebijakan memblokir kebutuhan dasar yang diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia itu menunjukkan adanya niat Israel untuk membuat Gaza kelaparan dan membunuh lebih banyak warga Palestina.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Related Articles

See More