Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perang Iran vs AS-Israel Sudah 15 Hari, Apa yang Sudah Terjadi?
ilustrasi serangan AS dan Israel di Iran (pexels.com/Ahmed Akacha)
  • Mojtaba Khamenei resmi menggantikan ayahnya dan bersumpah membalas serangan AS-Israel, sambil memastikan Selat Hormuz tetap ditutup meski sempat dikabarkan terluka.
  • Masjid Al Aqsa masih ditutup selama perang, memicu kecaman delapan negara Muslim yang menilai tindakan Israel melanggar hukum internasional dan hak beribadah umat Muslim.
  • Dewan Keamanan PBB mengesahkan resolusi mendesak Iran hentikan serangan ke negara Teluk, sementara Indonesia memilih tidak menjadi co-sponsor dengan alasan menjaga keseimbangan diplomatik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel sudah berlangsung selama 15 hari. Sejak 28 Februari 2026 hingga sekarang, penyerangan itu masih terus berlanjut.

Tidak tinggal diam, Iran juga melakukan pembalasan atas serangan-serangan AS dan Israel ini. Berikut adalah hal-hal yang perlu kita ketahui seiring perang yang sudah memasuki minggu ketiga itu.

1. Mojtaba Khamenei mulai bersuara, disebut terluka

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, sedang berjalan menggandeng kedua anaknya. (commons.wikimedia.org/Hamed Malekpour)

Usai meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei, sang putra Mojtaba Khamenei akhirnya tampil ke publik setelah ditunjuk menggantikan sang ayah. Sebuah sikap yang tegas langsung dia perlihatkan.

Dalam pernyataannya, dia bersumpah akan membalas serangan AS dan Israel yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi sebelumnya. Dia juga memastikan, Selat Hormuz akan tetap ditutup.

"Kami akan membalas darah para martir kami. Pembalasan adalah prioritas, sampai sepenuhnya tercapai. Selat Hormuz juga akan tetap ditutup, untuk menekan musuh-musuh Iran,” ujar Motjaba, dilansir "Al Jazeera".

Mojtaba pun belakangan dikabarkan mengalami luka akibat serangan AS dan Israel ke Iran. Penasihat pemerintah, Yousef Pezeshkian, akhirnya mengonfirmasi Mojtaba dalam kondisi sehat.

"Saya mendengar kabar Mojtaba Khamenei terluka. Saya sudah tanya ke beberapa teman yang mengetahui masalah itu. Mereka bilang ke saya, terima kasih Tuhan, dia selamat dan sehat,” kata Yousef, seperti dikutip AFP,

2. Masjid Al Aqsa masih ditutup

Dome of the Rock (Kubah Batu), atau dalam bahasa Arab disebut sebagai Qubbat as-Sakhrah. Bangunan ini terletak di kompleks Masjid Al-Aqsa, Kota Tua Yerusalem. (commons.wikimedia.org/Mike Norton))

Hingga hari ke-15 perang, Masjid Al Aqsa masih ditutup oleh otoritas pendudukan Israel. Hal ini membatasi akses umat Muslim untuk beribadah, khususnya selama Ramadan. Kecaman pun datanng dari Menteri Luar Negeri delapan negara.

Pernyataan tersebut disampaikan bersama oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab. Dalam pernyataan itu, para menteri menilai kebijakan Israel sebagai langkah yang tidak sah serta bertentangan dengan hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional.

"Pembatasan keamanan terhadap akses ke Kota Tua Yerusalem dan tempat-tempat ibadahnya, serta pembatasan akses yang diskriminatif dan sewenang-wenang terhadap tempat ibadah lainnya di Kota Tua, merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional," demikian bunyi pernyataan tersebut.

3. Dewan Keamanan PBB sahkan resolusi soal serangan Iran

potret sidang Majelis Umum PBB (commons.wikimedia.org/Yuryi Abramochkin)

Dewan Keamanan (DK) PBB mengesahkan resolusi yang menyerukan Iran segera menghentikan serangannya terhadap sejumlah negara Teluk. Resolusi tersebut menyebut serangan Iran melanggar hukum internasional dan menimbulkan ancaman serius terhadap perdamaian serta keamanan internasional.

Resolusi DK PBB itu disahkan pada Rabu (11/3/2026) waktu setempat dengan dukungan 13 negara, sementara dua negara lainnya memilih abstain. Indonesia memilih tak mau jadi co-sponsor resolusi ini.

"Memang kita mengikuti bahwa Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817, Indonesia tidak menjadi co-sponsor dalam resolusi tersebut. Pertimbangan kita adalah pertama, bahwa dalam melihat upaya untuk menyelesaikan suatu persoalan ini, bukan saja inklusivitasnya yang perlu kita perhatikan dalam prosesnya, tapi juga berimbang,” ujar Juru Bicara Kemlu Vahd Nabyl Achmad Mulachela di kantor Kemlu, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2026).

4. Iran diduga tebar ranjau di Selat Hormuz

Tampilan satelit Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/Envisat satellite/ESA)

Pejabat AS menyatakan Iran mulai menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz, langkah yang dinilai berpotensi mengganggu jalur pelayaran global. Informasi tersebut dilaporkan berdasarkan data intelijen yang diperoleh pejabat AS.

Menurut seorang pejabat AS yang mendapat pengarahan intelijen, langkah tersebut dilakukan setelah militer Amerika menghancurkan kapal-kapal besar Iran yang sebelumnya digunakan untuk menebar ranjau di perairan tersebut. Akibatnya, Iran kini disebut menggunakan kapal-kapal kecil untuk menjalankan operasi tersebut.

“Setelah pasukan AS menghancurkan kapal-kapal besar Iran yang mampu menebar ranjau dengan cepat, Iran mulai menggunakan kapal kecil untuk operasi tersebut,” kata seorang pejabat AS yang dikutip The New York Times, Jumat (13/3/2026).

5. Sebanyak 1.300 orang meninggal di Iran akibat perang ini

Momen ketika 22 WNI tiba dari Iran dalam gelombang pertama evakuasi dan tiba di Bandara Soekarno Hatta. (www.x.com/@Kemlu_RI)

Serangan AS-Israel kepada Iran terus berlanjut, dan dikabarkan 1.300 orang di Iran meninggal dunia akibat serangan ini. Namun, serangan Iran juga berefek besar di Tel Aviv, karena banyak bangunan runtuh di sana.

Lebanon juga harus menerima efek dari serangan Israel, seiring meninggalnya sembilan orang akibat serangan itu. Situasi di Timur Tengah pun masih panas buntut dari perang AS-Israel lawan Iran ini.

Editorial Team