Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Foto nenek sedang bekerja (
Foto nenek sedang bekerja (unsplash.com/Beth McDonald)

Intinya sih...

  • Perusahaan Jepang kembangkan bisnis "granny business" yang mempekerjakan lansia wanita

  • Perusahaan startup Ukiha no Takara co. mengoperasikan beberapa kafe di prefektur barat daya dengan 50 lansia bekerja, sebagian besar adalah wanita. Bisnis telah memproduksi berbagai macam jenis keterampilan & makanan dan penjualan tahunannya melebihi 20 juta yen.

  • Ide tercipta karena keluhan lansia terkait faktor ekonomi, Jepang catat rekor jumlah tertinggi lansia di dunia

  • Para lansia yang dipekerjakan banyak yang berusia 80–90 tahun keatas dan peluang kerja sangatlah langka bagi masyarakat berusia 75 tahun keatas.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sebuah perusahaan startup Ukiha no Takara co. yang berbasis di kota Ukiha, Prefektur Fukuoka, Jepang, sedang mengembangkan  bisnis yang berfokus dalam mempekerjakan para lansia wanita.

Proyek "granny business" ini dimaksudkan untuk mengubah keterampilan para lansia menjadi pekerjaan berbayar dengan memanfaatkan kemampuan memasak, keramahtamahan, dan bidang busana lalu menempatkannya ke berbagai sektor seperti kafe, kedai makan, hingga festival.

Langkah Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi keterasingan sosial di kalangan lansia, sekaligus menjaga perputaran ekonomi di antara komunitas lokal, dilansir Kyodo News.

1. Ingin ciptakan peluang untuk lansia

Foto nenek sedang bekerja (unsplash.com/Beth McDonald)

"Ketika para lansia menghasilkan uang dan membelanjakannya secara lokal, hal itu membantu menciptakan komunitas regional yang dinamis," kata Mitsuru Okuma, presiden dan CEO perusahaan.

Perusahaan tersebut kini sudah mengoperasikan beberapa kafe di prefektur barat daya. Terdapat 50 lansia yang bekerja dengan sebagian besar adalah wanita, meski terdapat beberapa laki-laki pula. Saat ini, bisnis telah memproduksi berbagai macam jenis keterampilan & makanan seperti celana tradisional Jepang serta ubi jalar kering, lalu menjualnya secara online. Penjualan tahunannya melebihi 20 juta yen (sekitar Rp 2miliar).

"Usaha rumahan bukan bantuan sosial," kata Okuma. "Ini tentang menciptakan peluang."

2. Ide tercipta karena keluhan lansia terkait faktor ekonomi

Para lansia yang dipekerjakan banyak yang berusia 80–90 tahun keatas. Di antaranya bahkan menderita demensia. Ide awal terciptanya proyek bisnis ini muncul setelah mendengarkan keluhan warga lansia yang mengungkapkan rasa frustrasi mereka tentang keuangan dan mobilitas.

"Saya sering mendengar mereka mengatakan hal-hal seperti 'kami tidak bisa hidup hanya dengan uang pensiun' dan 'Kami tidak keluar rumah karena kami tidak punya mobil atau uang'," ungkap Okuma.

Okuma menambahkan, peluang kerja sangatlah langka bagi masyarakat berusia 75 tahun keatas, meskipun sebagian masih merasa mampu dan termotivasi. 

Pada bulan Oktober 2025 lalu, perusahaan menyelenggarakan festival di mana para lansia memamerkan hobi seperti mode dan pertunjukan band. Biaya operasionalnya didapatkan dari pendapatan iklan dan sponsor. Acara itu pun mampu menarik hingga sekitar 850 peserta lansia.

3. Jepang catat rekor jumlah tertinggi lansia di dunia

Ilustrasi seorang wanita tua (unsplash.com/cylde he)

Sementara itu, pada tahun 2025 data penduduk di Jepang yang berusia diatas 100 tahun telah meningkat menjadi yang tertinggi sepanjang masa.

Jumlah ini mencatatkan rekor baru pertumbuhan lansia hingga mencapai 99.763 jiwa per September 2025. Kementerian kesehatan Jepang juga menyebut bahwa sebanyak 88% penyumbang angka adalah perempuan.

Jepang adalah negara dengan angka lansia terbanyak di dunia saat ini. Namun disisi lain, negara ini juga merupakan salah satu yang memiliki tingkat kelahiran terendah, dikutip dari BBC.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team