Gedung Putih (pexels.com/Chris)
Gedung Putih kemudian menepis kritik yang disampaikan Starmer. Juru bicara Taylor Rogers menyatakan bahwa Trump benar, dengan menegaskan AS telah berkontribusi lebih besar bagi NATO dibandingkan negara mana pun dalam aliansi itu.
Pernyataan Trump muncul tak lama setelah ancaman pengenaan tarif terhadap negara-negara Eropa yang menolak kendali AS atas Greenland, wilayah semi-otonom Denmark, sebelum ancaman tersebut ditarik usai pembicaraan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengenai keamanan Arktik.
Seiring itu, kecaman datang dari berbagai kalangan di Eropa dan Inggris lintas partai. Menteri Luar Negeri Belanda David van Weel menyebut pernyataan tersebut tak benar dan tak hormat, sementara Menteri Pertahanan Polandia Wladyslaw Kosiniak-Kamysz menegaskan Polandia adalah sekutu yang dapat diandalkan dan menuntut penghormatan bagi veteran negaranya.
Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin menekankan bahwa 90 prajurit Prancis yang gugur serta mereka yang terluka layak dihormati. Menteri Pertahanan Inggris John Healey menyebut prajurit yang tewas sebagai pahlawan yang mengorbankan nyawa demi bangsa.
Sikap serupa juga disampaikan Menteri Angkatan Bersenjata Al Carns yang pernah lima kali bertugas di Afghanistan dan menyebut komentar Trump konyol. Pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch menilainya sebagai omong kosong yang berpotensi melemahkan NATO.
Pemimpin Reform UK Nigel Farage turut menyampaikan pernyataan melalui X.
“Donald Trump salah. Selama 20 tahun angkatan bersenjata kami berjuang dengan gagah berani bersama Amerika di Afghanistan,” katanya.
Pangeran Harry, yang dua kali bertugas di garis depan Afghanistan, juga angkat bicara.
“Saya bertugas di sana. Saya membuat teman seumur hidup di sana. Dan saya kehilangan teman di sana. Ribuan kehidupan berubah selamanya. Ibu dan ayah mengubur anak laki-laki dan perempuan. Anak-anak ditinggalkan tanpa orang tua. Keluarga ditinggalkan menanggung biayanya. Pengorbanan-pengorbanan tersebut pantas dibicarakan dengan jujur dan penuh hormat,” ujarnya.
Sejumlah keluarga prajurit gugur, termasuk Lucy Aldridge yang kehilangan putranya William pada usia 18 tahun, menyebut pernyataan tersebut sangat menyedihkan. Direktur Jenderal Royal British Legion Mark Atkinson menegaskan pengabdian dan pengorbanan pasukan Inggris tak dapat diragukan.