Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Polisi Turki Tangkap 110 Penambang Batu Bara saat Aksi Mogok Makan
Ilustrasi Bendera Turki (freepik.com/freestockcenter)
  • Sebanyak 110 penambang batu bara ditangkap polisi di Ankara saat melakukan aksi mogok makan setelah berjalan kaki 200 kilometer dari Eskisehir menuntut upah yang belum dibayar.
  • Aksi ini dipicu oleh penunggakan gaji selama dua hingga delapan bulan oleh Doruk Mining, termasuk tuntutan pesangon, kompensasi, dan penghentian intimidasi terhadap anggota serikat pekerja.
  • Para penambang sempat ditahan 14 jam dengan laporan keterbatasan akses medis, sementara ketegangan antara pekerja dan pemerintah terus berlanjut karena tuntutan belum mendapat tanggapan resmi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Polisi Turki menangkap 110 penambang batu bara yang sedang melakukan aksi mogok makan di ibu kota Ankara pada Selasa pagi (21/4/2026). Para pekerja ini ditahan setelah berjalan kaki sejauh 200 kilometer dari Provinsi Eskisehir untuk menuntut upah yang belum dibayarkan oleh perusahaan mereka.

Protes ini diwarnai dengan aksi duduk bertelanjang dada di depan gedung Kementerian Energi Turki sebagai bentuk protes atas kondisi finansial mereka. Penangkapan ini menambah ketegangan antara kelompok pekerja dan pemerintah di tengah dinamika politik setempat.

1. Pekerja tambang berjalan kaki ke Ankara untuk menuntut upah

pemandangan Ankara Castle (pexels.com/Muhammed Mahsum)

Aksi ini bermula ketika para pekerja tambang batu bara lignit dari Doruk Mining, anak perusahaan Yıldızlar SSS Holding, berjalan kaki dari tempat kerja mereka di Eskisehir menuju Ankara sejak 12 April 2026. Selama sembilan hari, 110 penambang berjalan sejauh 200 kilometer untuk menuntut hak pembayaran yang tertunda selama berbulan-bulan.

Perjalanan ini merupakan langkah lanjutan para pekerja untuk meminta perhatian dari pemerintah pusat setelah perundingan internal dengan pihak perusahaan menemui jalan buntu.

Setibanya di ibu kota pada Senin (20/4/2026), para penambang berkumpul di depan gedung Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam Turki untuk memulai mogok makan. Para pekerja memprotes dengan melepas baju dan menuliskan pesan seperti "Kami lapar" di tubuh mereka.

Mereka juga meletakkan helm di tanah dengan pesan yang mengisyaratkan bahwa suara mereka selama ini tidak didengar. Serikat Pekerja Tambang Independen (Bağımsız Maden-İş) melaporkan bahwa saat pekerja menunggu untuk bertemu pejabat kementerian, aparat kepolisian mengepung dan menangkap peserta aksi.

"Kami sedang menunggu untuk berbicara dengan pejabat di luar gedung kementerian, tapi respons yang kami dapat justru penangkapan 110 rekan kami," kata perwakilan serikat pekerja Bağımsız Maden-İş melalui media sosial X, dilansir Turkish Minute.

2. Perusahaan tambang menunggak upah pekerja selama berbulan-bulan

ilustrasi pekerja tambang (unsplash.com/Marjan Taghipour)

Protes ini berakar pada masalah penunggakan gaji pekerja oleh Doruk Mining yang berlangsung selama dua hingga delapan bulan. Selain menuntut gaji pokok, para pekerja juga meminta perusahaan segera mencairkan uang pesangon dan kompensasi bagi pekerja yang diberhentikan sepihak.

Situasi semakin rumit karena perusahaan memberlakukan kebijakan cuti di luar tanggungan (unpaid leave). Serikat pekerja menilai langkah ini sebagai cara perusahaan menghindari tanggung jawab finansial yang berdampak pada ekonomi keluarga pekerja. Serikat juga meminta evaluasi terhadap kondisi keselamatan dan kesehatan kerja di tambang lignit tersebut agar sesuai dengan standar regulasi.

Tuntutan lainnya adalah mendesak perusahaan menghentikan intimidasi terhadap anggota serikat dan mempekerjakan kembali rekan mereka yang dipecat. Para penambang turut membawa spanduk yang meminta ketegasan pemerintah untuk melindungi hak-hak mereka di mata hukum. 

3. Polisi menahan ratusan peserta aksi protes di Ankara

ilustrasi bendera Turki (unsplash.com/Tarik Haiga)

Penangkapan penambang oleh polisi Ankara menuai berbagai respons dan simpati dari masyarakat Turki. Para penambang sempat ditahan selama 14 jam.

Terdapat laporan mengenai keterbatasan akses medis selama penahanan, termasuk satu peserta yang harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami penurunan kondisi kesehatan.

"Di negara ini kesejahteraan pekerja kurang diperhatikan, yang dipentingkan hanya perputaran uang. Ini adalah evaluasi besar bagi para penyelenggara negara," kata Ketua Serikat Pekerja Tambang, Gökay Çakır, dilansir France 24.

Meskipun para penambang akhirnya dibebaskan, ketegangan belum sepenuhnya reda karena tuntutan terkait upah dan kondisi kerja belum mendapat titik temu dari pihak Kementerian Energi maupun Doruk Mining.

"Kami adalah pekerja tambang, kami tidak akan menyurutkan langkah karena penahanan ini, dan kami akan terus melanjutkan upaya untuk mendapatkan hak kami," kata perwakilan serikat pekerja Bağımsız Maden-İş.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team