Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Presiden Kuba Peringatkan AS, Serangan Militer Bisa Picu Pembantaian
Bendera Kuba (pexels.com/Matthias Oben)
  • Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel memperingatkan bahwa aksi militer AS terhadap Kuba bisa memicu pembantaian dan mengganggu stabilitas kawasan Karibia.
  • Pemerintah Kuba menegaskan hak membela diri sesuai Piagam PBB, menolak tuduhan terkait kepemilikan drone militer yang disebut dalam laporan intelijen AS.
  • AS memperketat tekanan terhadap Havana dengan memblokir pasokan minyak, menyebabkan krisis energi parah dan memperburuk hubungan diplomatik kedua negara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Kuba kembali memanas setelah Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel Bermúdez, memperingatkan dampak besar bila Washington melancarkan aksi militer terhadap negaranya. Bermúdez menyebut langkah tersebut dapat memicu pembantaian sekaligus mengganggu stabilitas kawasan Karibia.

Dalam unggahan di media sosial, Díaz-Canel menyatakan bahwa Kuba tidak menimbulkan ancaman bagi AS.

“Ancaman agresi militer terhadap Kuba dari kekuatan militer terbesar di planet ini sudah diketahui. Ancaman itu sendiri adalah kejahatan internasional,” tulis Bermúdez, dikutip Politico.

1. Havana menyebut Kuba berhak membela diri

ilustrasi militer (pexels.com/Somchai Komkamsri)

Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, ikut memperkuat posisi pemerintah Havana lewat unggahan terpisah. Rodriguez mengatakan Kuba sebagai negara berdaulat memiliki hak untuk mempertahankan diri dari agresi asing sesuai Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan hukum internasional.

Rodriguez juga menyebut pihak yang ingin menyerang Kuba kerap menyiapkan alasan palsu untuk membenarkan tindakan mereka. Pernyataan itu muncul setelah laporan media Axios mengutip dokumen intelijen rahasia milik AS.

2. Laporan intelijen menyoroti drone militer Kuba

ilustrasi drone militer (unsplash.com/Sergey Koznov)

Berdasarkan laporan The Guardian yang mengulas dokumen intelijen tersebut, Kuba disebut sudah memperoleh lebih dari 300 drone militer. Dokumen itu mengklaim adanya pembahasan penggunaan drone untuk menyerang pangkalan angkatan laut AS di Teluk Guantanamo, kapal perang AS, hingga kemungkinan target di Key West, Florida.

Informasi intelijen itu disebut menjadi kekhawatiran Kuba karena berpotensi dipakai sebagai alasan bagi AS untuk meluncurkan operasi militer. Ketegangan terbaru ini juga berkaitan dengan krisis energi berat di Kuba setelah AS menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dan mengambil alih produksi minyak negara itu yang selama ini menjadi penopang utama pasokan energi Kuba.

3. Washington memperbesar tekanan terhadap Havana

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Mengutip laporan Politico, pengiriman minyak dari sejumlah negara alternatif ikut diblokir sehingga stok bahan bakar Kuba habis total. Akibat kondisi itu, pasokan listrik di berbagai daerah hanya menyala sekitar satu hingga dua jam per hari.

Hubungan Washington dan Havana yang telah lama memburuk akibat sistem pemerintahan komunis Kuba juga makin tegang setelah jaksa AS dilaporkan bersiap mendakwa mantan pemimpin Kuba, Raúl Castro, yang kini berusia 94 tahun. Dakwaan itu berkaitan dengan insiden penembakan dua pesawat kelompok kemanusiaan Brothers to the Rescue pada 1996.

Pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, juga terus meningkatkan tekanan terhadap Kuba dengan menuding pemerintah negara itu korup dan tak kompeten sambil mendorong suksesi politik di pulau tersebut. Trump sebelumnya menyebut langkah AS di Venezuela baru permulaan, sedangkan seorang pejabat Gedung Putih menyatakan Kuba akan gagal dan AS bakal datang untuk membantu mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team