Jakarta, IDN Times - Namanya mungkin asing di telinga banyak orang, tapi Masoud Pezeshkian adalah orang nomor satu dalam pemerintahan Iran saat ini. Ia adalah politisi sekaligus mantan dokter bedah jantung yang menjabat sebagai presiden Iran ke-9 sejak 2024, dan tercatat sebagai orang tertua yang pernah menduduki posisi itu, yakni di usia 69 tahun.
Profil Masoud Pezeshkian, Dokter Jantung yang Jadi Presiden Iran

1. Dari ruang operasi ke panggung politik
Pezeshkian lahir pada 1954 dari keluarga religius di kota Mahabad, Provinsi Azerbaijan Barat, di barat laut Iran. Ia berasal dari keluarga dengan latar belakang etnis Azerbaijan dan Kurdi. Ayahnya Azerbaijan, sedangkan ibunya Kurdi.
Saat Iran berperang melawan Irak antara tahun 1980–1988, Pezeshkian aktif mengirim tim medis ke garis depan dan merawat tentara yang terluka. Setelah perang, ia melanjutkan spesialisasi hingga menjadi ahli bedah jantung.
Karier politiknya dimulai pada 1997 ketika ia bergabung dengan pemerintahan Presiden Mohammad Khatami sebagai Wakil Menteri Kesehatan, lalu naik menjadi Menteri Kesehatan penuh dari 2001 hingga 2005. Selama masa jabatan itu, ia memperluas akses asuransi kesehatan bagi hampir 25 juta penduduk pedesaan dan nyaris menggandakan anggaran kementerian.
Dilansir Iran Primer (USIP), selama bertugas di parlemen sejak 2008, Pezeshkian terpilih lima kali berturut-turut mewakili distrik Tabriz, Osku, dan Azarshahr.
2. Reformis yang lolos saringan dan menang secara mengejutkan
Kemenangan Pezeshkian di pemilu 2024 terbilang mengejutkan. Pemilu itu digelar mendadak setelah Presiden Ebrahim Raisi tewas dalam kecelakaan helikopter pada 19 Mei 2024.
Pezeshkian dikenal sebagai presiden paling berorientasi reformis sejak Khatami, meski ia tetap dianggap sebagai loyalis sistem yang tunduk pada batasan-batasan Republik Islam. Ia pernah mengkritik pemerintah atas penangkapan perempuan dan menyuarakan dukungan terhadap protes Woman, Life, Freedom, meski ia juga menegur seruan untuk menggulingkan supreme leader sebagai langkah yang tidak produktif.
Pada 6 Juli 2024, Pezeshkian memenangkan pemilu dengan 16,3 juta suara (53,7 persen) mengalahkan kandidat konservatif Saeed Jalili yang meraih 13,5 juta suara (44,3 persen). Dilansir Britannica, lolosnya satu kandidat reformis dalam pemilu 2024 itu dinilai sebagian analis sebagai upaya untuk mendongkrak partisipasi pemilih dan memperkuat legitimasi pemilu di tengah tingkat golput yang memecahkan rekor.
3. Presiden moderat di bawah bayang-bayang supreme leader
Sejak menjabat, Pezeshkian mengambil posisi yang menjaga keseimbangan antara citra moderat dan kesetiaan pada sistem. Ia mendukung aksi militer terhadap Israel dalam pertemuan dengan komandan IRGC dan Angkatan Darat, tetapi di sisi lain berjanji membawa stabilitas dan mengakhiri isolasi ekonomi Iran dengan berupaya mencabut sanksi AS.
Pada Juni 2025, ketika Israel melancarkan serangan udara ke Iran yang memicu Perang Dua Belas Hari, Pezeshkian memerintahkan penghentian kerja sama Iran dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Intelijen AS melaporkan bahwa pasukan Israel sempat mencoba membunuhnya, namun Pezeshkian berhasil lolos melalui jalur evakuasi darurat dengan luka ringan di kaki.
Al Jazeera melansir, setelah pembunuhan Supreme Leader Ali Khamenei pada 1 Maret 2026, Pezeshkian ditunjuk sebagai salah satu dari tiga anggota Dewan Kepemimpinan Sementara Iran bersama dua tokoh senior lainnya, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan anggota Dewan Wali Ayatollah Alireza Arafi.