Iran Bakal Tutup Selat Hormuz sampai Perang dengan AS-Israel Usai

- Iran menegaskan akan menutup Selat Hormuz hingga perang dengan AS dan Israel berakhir, melarang ekspor minyak dari Timur Tengah yang berpotensi memicu lonjakan harga global.
- Presiden AS Donald Trump mengecam langkah Iran dan mengancam serangan lebih keras jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali demi kelancaran suplai minyak dunia.
- AS dan Israel terus melancarkan serangan ke wilayah Iran, menyebabkan lebih dari 1.300 korban jiwa dan memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Jakarta, IDN Times - Iran menegaskan akan tetap menutup Selat Hormuz sampai perang dengan Amerika Serikat dan Israel usai. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Selasa (10/3/2026).
Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan tidak akan membiarkan negara-negara Timur Tengah untuk mengekspor minyak lewat Selat Hormuz. Para pengamat menilai tindakan ini akan membuat harga minyak global semakin melambung.
“Kami tidak akan membiarkan 1 liter minyak pun dari Timur Tengah untuk diekspor melalui Selat Hormuz,” bunyi pernyataan IRGC, seperti dilansir The Strait Times.
1. Trump ingin Iran kembali buka Selat Hormuz

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran ini sebetulnya sudah menuai kecaman keras dari Presiden AS, Donald Trump. Sebab, Trump ingin selat tersebut kembali dibuka agar suplai minyak global dari Timur Tengah bisa berjalan lancar.
Trump juga sudah mengancam akan melakukan serangan yang lebih parah ke Iran jika mereka tetap menutup Selat Hormuz. Trump akan bekerja sama dengan sekutunya, Israel, untuk melakukan hal tersebut.
“Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan pasokan minyak di Selat Hormuz, mereka akan diserang oleh Amerika Serikat 20 kali lebih keras daripada yang telah mereka alami selama ini," tulis Trump di Truth Social pada Senin (9/3/2026) dilansir CNA.
2. Iran tetap bersikukuh menutup Selat Hormuz

Kendati sudah diancam Trump, Iran tidak bergeming. Iran bersikukuh menutup Selat Hormuz sampai AS dan Israel berhenti melakukan serangan ke wilayahnya.
Beberapa waktu lalu, IRGC bahkan menegaskan mereka siap berperang dalam waktu lama sampai AS dan Israel berhasil dikalahkan. Mereka juga sudah menyiapkan kekuatan untuk hal tersebut. “Kitalah yang akan menentukan akhir perang,” kata juru bicara IRGC yang tidak disebut namanya.
Senada dengan IRGC, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga menegaskan Iran tidak akan menyerah pada AS dan Israel. Pernyataan ini disampaikan setelah Trump meminta Iran untuk menyerah tanpa syarat agar konflik segera berakhir.
3. AS dan Israel masih menyerang Iran hingga kini

Hingga kini, AS dan Israel masih menyerang Iran. Serangan terbaru terjadi pada Senin sore waktu setempat. Saat itu, AS-Israel melakukan serangan ke beberapa wilayah di Iran. Serangan tersebut dilakukan di saat warga sedang merayakan terpilihnya Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei.
Serangan AS-Israel ini membuat korban jiwa terus berjatuhan. Menurut keterangan Duta Besar Iran untuk PBB, Saeid Iravani, korban tewas imbas serangan AS-Israel di negaranya kini sudah mencapai kurang lebih 1.332 orang.
Oleh karena itu, Iravani mendesak AS dan Israel untuk segera menyudahi agresi militernya terhadap Iran. Sebab, jika agresi terus berlanjut, akan ada lebih banyak korban jiwa yang berjatuhan. Selain itu, menurutnya, perang yang berkepanjangan juga akan membuat situasi di Timur Tengah makin kacau.


















