Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi protes di Iran
ilustrasi protes di Iran (unsplash.com/Nk Ni)

Intinya sih...

  • Protes kenaikan biaya hidup di Iran menelan tujuh korban jiwa dalam bentrokan sengit antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan.

  • Pemerintah Iran merespons dengan menangkap puluhan pengunjuk rasa, menuduh adanya keterlibatan pihak asing dan kelompok pendukung monarki.

  • Nilai mata uang rial Iran merosot tajam akibat inflasi yang mencapai 40 persen, memicu keresahan sosial dan protes massal dari pedagang di Grand Bazaar Teheran.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Demonstrasi memprotes kenaikan biaya hidup di Iran semakin memanas dan telah menelan korban jiwa. Sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas dalam bentrokan sengit antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan hingga hari kelima pada Kamis (1/1/2026).

Aksi protes ini awalnya dipicu oleh kemerosotan tajam nilai mata uang rial Iran dan inflasi tinggi yang mencekik warga. Kerusuhan kini meluas dari ibu kota Teheran hingga ke wilayah pedesaan, menandai tantangan serius bagi pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian.

1. Rincian korban jiwa dan bentrokan senjata

bendera Iran. (unsplash.com/mostafa meraji)

Kantor berita Fars melaporkan tiga orang tewas di kota Azna, provinsi Lorestan, ketika sekelompok pengunjuk rasa menyerang markas polisi setempat. Massa dilaporkan menggunakan senjata tajam dan senjata api saat berusaha merebut gudang senjata petugas, sehingga memicu baku tembak.

Kekerasan serupa juga pecah di Lordegan, provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, di mana dua orang tewas di tengah kerumunan massa. Kelompok hak asasi manusia Hengaw menyebut para korban ditembak langsung oleh pasukan keamanan Iran.

Di kota Kouhdasht, media pemerintah mengonfirmasi kematian seorang anggota pasukan paramiliter Basij yang berusia 21 tahun. Pejabat setempat menyebut anggota pasukan yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran itu tewas akibat amukan pengunjuk rasa.

Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan kekacauan di jalanan dengan suara tembakan yang terdengar di latar belakang. Saksi mata menggambarkan situasi di lokasi kejadian sangat mencekam dengan aparat yang bertindak represif terhadap kerumunan.

"Hari ini, penduduk kota saya turun ke jalan untuk menuntut hak-hak mereka. Sejauh ini, dua orang muda telah tewas dan banyak yang terluka. Kami meminta seluruh rakyat dunia untuk menjadi suara kami," ungkap Ebrahim Eshaghi, seorang warga Lordegan, dilansir The Guardian.

2. Pemerintah Iran tangkap puluhan pengunjuk rasa

bendera Iran. (unsplash.com/mostafa meraji)

Otoritas Iran merespons gelombang protes ini dengan melakukan serangkaian penangkapan di berbagai kota yang terdampak kerusuhan. Kejaksaan setempat melaporkan telah menahan 20 orang di Kouhdasht dan 30 orang lainnya di distrik Malard, Teheran barat, atas tuduhan mengganggu ketertiban umum.

Jaksa Agung Mohammad Movahedi-Azad memperingatkan segala upaya menciptakan ketidakstabilan di negara tersebut akan ditindak secara tegas. Pemerintah juga menuduh adanya keterlibatan pihak asing dan kelompok pendukung monarki yang sengaja menunggangi aksi protes ekonomi ini untuk menciptakan kekacauan.

Presiden Pezeshkian mengakui adanya ketidakpuasan publik terkait kondisi ekonomi yang memburuk di negaranya. Ia memerintahkan jajarannya untuk mendengarkan tuntutan warga tapi melarang keras aksi yang merusak fasilitas umum.

"Dari sudut pandang Islam, jika kami tidak menyelesaikan masalah kehidupan rakyat, kami akan berakhir di neraka," tutur Pezeshkian dalam siaran televisi pemerintah, dikutip Al Jazeera.

Pemerintah juga mengumumkan hari libur nasional pada hari Rabu dengan alasan cuaca dingin dan upaya penghematan energi. Langkah ini dinilai sebagai taktik untuk meredam mobilisasi massa agar tidak berkumpul di pusat-pusat kota.

3. Nilai mata uang rial Iran merosot tajam

Protes ini meletus akibat jatuhnya nilai mata uang rial Iran yang mencapai titik terendah terhadap dolar AS. Nilai tukar di pasar gelap dilaporkan menembus angka 1,4 juta rial per satu dolar AS, yang menghancurkan daya beli masyarakat.

Inflasi yang mencapai 40 persen telah membuat harga bahan pokok melambung tinggi dan memicu keresahan sosial yang meluas. Para pedagang di Grand Bazaar Teheran bahkan sempat melakukan mogok kerja massal sebagai bentuk protes terhadap kebijakan ekonomi pemerintah.

Demonstrasi kali ini dianggap sebagai tantangan domestik terbesar sejak gerakan protes kematian Mahsa Amini pada 2022 lalu. Meskipun belum seintensif peristiwa sebelumnya, penyebaran protes ke wilayah pedesaan menjadi sinyal bahaya bagi Teheran.

Sanksi ekonomi bertubi-tubi dari negara-negara Barat masih terus menekan stabilitas keuangan Iran selama bertahun-tahun. Situasi ekonomi semakin parah dengan adanya ketegangan geopolitik dan serangan terhadap infrastruktur strategis Iran baru-baru ini.

"Protes yang terjadi disebabkan oleh tekanan ekonomi, inflasi, dan fluktuasi mata uang serta merupakan ekspresi kekhawatiran masyarakat akan penghidupan. Suara warga harus didengar dengan saksama dan bijaksana," kata Saeed Pourali, pejabat di Lorestan, dilansir NPR.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Topics

Editorial Team