Jakarta, IDN Times - Aksi demonstrasi besar kembali mengguncang Amerika Serikat (AS). Ribuan hingga jutaan warga turun ke jalan di berbagai kota dalam gelombang terbaru aksi ‘No Kings’ yang menjadi salah satu gerakan protes terbesar terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump sejak ia kembali menjabat pada 2025.
Aksi ini menandai putaran ketiga demonstrasi No Kings, setelah sebelumnya berhasil menarik jutaan peserta secara nasional. Para pengunjuk rasa menyuarakan penolakan terhadap berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari perang di Iran, kebijakan imigrasi yang ketat, hingga meningkatnya biaya hidup.
Sepanjang Sabtu (28/3/2026), aksi berlangsung hampir di seluruh kota besar Amerika Serikat seperti New York, Washington DC, dan Los Angeles. Di ibu kota AS, ribuan massa memenuhi kawasan National Mall hingga tangga Lincoln Memorial, menciptakan salah satu konsentrasi massa terbesar dalam aksi kali ini.
Di New York, ribuan orang memadati Times Square dan bergerak melalui Midtown Manhattan, memaksa polisi menutup sejumlah ruas jalan utama. Sementara di Minnesota, yang menjadi salah satu pusat aksi, ribuan orang berkumpul di St. Paul, termasuk sejumlah tokoh Partai Demokrat yang turut menyampaikan orasi.
Minnesota sendiri menjadi simbol penting dalam gelombang protes ini, menyusul kematian dua warga sipil, Renee Nicole Good dan Alex Pretti, yang tewas dalam operasi aparat imigrasi federal pada Januari lalu. Peristiwa tersebut memicu kemarahan publik dan menjadi salah satu pemicu utama aksi nasional.
Tak hanya di kota besar, demonstrasi juga meluas ke kota-kota kecil seperti Shelbyville di Kentucky dan Howell di Michigan. Bahkan, warga Amerika di luar negeri turut menggelar aksi serupa di kota-kota seperti Paris, London, dan Lisbon.
Para demonstran membawa berbagai spanduk, termasuk yang menolak perang Iran dan kebijakan Immigration and Customs Enforcement (ICE). Dalam aksi-aksi sebelumnya, jumlah peserta bahkan disebut mencapai hampir tujuh juta orang secara nasional.
