ilustrasi Ukraina dan Rusia (magnific.com/wirestock)
Selain energi, Rusia juga ingin memperluas hubungan dagang dengan China di berbagai sektor. Sebelum perang Ukraina pecah, Rusia sangat bergantung pada Uni Eropa sebagai mitra dagang utama. Namun, setelah berbagai sanksi dijatuhkan, arus perdagangan Rusia perlahan beralih ke China. Dalam empat tahun terakhir, volume perdagangan kedua negara bahkan disebut meningkat hingga dua kali lipat.
Putin mengungkapkan bahwa hubungan Rusia dan China memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Rusia kini membutuhkan banyak produk teknologi, barang manufaktur, dan barang konsumsi dari China untuk menjaga aktivitas ekonominya tetap berjalan. Sergei Guriev juga menjelaskan bahwa China sudah menjadi mitra dagang terbesar Rusia saat ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Rusia semakin sulit dipisahkan dari dukungan perdagangan China.
Kunjungan Putin ke Beijing kali ini sebenarnya lebih dari sekadar pertemuan diplomatik biasa. Rusia sedang berusaha memastikan bahwa China tetap berada di pihak mereka di tengah tekanan Barat dan perang Ukraina yang belum berakhir. Mulai dari dukungan geopolitik, proyek energi besar, sampai kerja sama perdagangan, semuanya menjadi kebutuhan penting bagi Moskow saat ini.
China pun berada dalam posisi strategis karena bisa menentukan seberapa besar dukungan yang ingin diberikan kepada Rusia. Hubungan kedua negara kemungkinan masih akan terus erat, meski masing-masing tetap punya kepentingan besar yang ingin diamankan.