Ratusan pemuda kembali memadati jalanan kota Kathmandu pada Minggu (22/3/2026). Aksi ini merupakan puncak kekecewaan Generasi Z atas tertundanya pengumuman laporan investigasi terkait tragedi September 2025. Peristiwa yang dikenal sebagai "Revolusi Gen Z" tersebut memakan korban jiwa sedikitnya 77 orang dan melukai lebih dari 2.113 orang lainnya.
Kerusuhan tahun lalu itu dipicu oleh keputusan mendadak pemerintah pada 4 September 2025 yang melarang 26 platform media sosial, termasuk Facebook, Instagram, YouTube, WhatsApp, X, WeChat, VK, dan LINE. Meskipun pemerintah beralasan soal aturan pendaftaran, masyarakat menilai kebijakan tersebut adalah upaya membungkam kritik terhadap korupsi dan gaya hidup mewah keluarga pejabat.
Kemarahan pemuda makin memuncak karena angka pengangguran yang tinggi serta ketergantungan ekonomi pada kiriman uang dari luar negeri. Puncak ketegangan terjadi pada 8-9 September 2025 saat ribuan mahasiswa bentrok dengan aparat keamanan yang menggunakan gas air mata dan peluru tajam secara berlebihan.
"Kami berada di sini untuk menuntut laporan mengenai alasan mengapa insiden itu terjadi dan mengapa begitu banyak pemuda yang harus tewas," ujar aktivis Sanatan Rijal, dilansir Arab News.
Laporan investigasi sebenarnya telah diserahkan sejak 8 Maret 2026, namun hingga kini belum dibuka ke publik. Hal ini memicu kecurigaan bahwa pemerintah sedang melindungi pejabat tinggi yang bertanggung jawab atas perintah penembakan massal.
Para demonstran mengingatkan bahwa perdamaian tanpa keadilan hanya akan memperparah budaya kebal hukum di Nepal. Aktivis lainnya, Laxmi Ghimire, menyatakan dalam orasinya bahwa rakyat tidak akan percaya pada janji pemerintah selama pelaku kekerasan belum dihukum.
"Mempromosikan semboyan tata kelola pemerintahan yang baik tidak akan membuat negara dan rakyatnya merasakannya secara nyata," ujar Ghimire, dilansir Kathmandu Post.