Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Konflik Timur Tengah, Warga Nepal Hanya Boleh Beli Gas Setengah Isi

Konflik Timur Tengah, Warga Nepal Hanya Boleh Beli Gas Setengah Isi
Bendera Nepal (unsplash.com/Sachin Khadka)
Intinya Sih
  • Pemerintah Nepal memberlakukan kebijakan penjualan tabung gas setengah isi untuk menjaga stok energi nasional di tengah gangguan pasokan akibat konflik bersenjata di Timur Tengah.
  • Nepal Oil Corporation mewajibkan distribusi tabung gas 7,1 kilogram seharga 955 rupee agar pembagian lebih adil dan mencegah aksi borong serta penimbunan oleh masyarakat.
  • Kebijakan ini memungkinkan distribusi gas menjangkau dua kali lebih banyak rumah tangga, menekan antrean panjang, dan memastikan kebutuhan memasak warga tetap terpenuhi meski pasokan global terganggu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Nepal resmi memberlakukan kebijakan penjualan tabung gas masak dengan kapasitas setengah isi, pada Jumat (13/3/2026). Langkah darurat ini diambil sebagai strategi pemerintah untuk menjaga agar stok energi nasional tetap aman, menyusul konflik bersenjata yang sedang terjadi di wilayah Timur Tengah.

Kebijakan ini bertujuan untuk mencegah warga merasa panik, yang biasanya berujung pada aksi borong dan penimbunan gas secara berlebihan. Dengan ukuran yang lebih kecil, pemerintah berharap distribusi gas bisa lebih merata dan menjangkau lebih banyak keluarga di tengah ketidakpastian pasokan energi dunia saat ini.

1. Nepal batasi isi gas akibat kemacetan jalur pasokan di Timur Tengah

Konflik bersenjata yang memanas di Timur Tengah kini menyebabkan kemacetan parah di Selat Hormuz. Jalur laut ini sangat penting karena menjadi rute utama bagi sekitar 90 persen pasokan gas (LPG) menuju India. Kondisi tersebut mengancam ketahanan energi Nepal, sebab negara yang tidak memiliki wilayah laut ini bergantung sepenuhnya kepada India untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar bagi 30 juta penduduknya.

Meskipun saat ini kiriman gas dari India diklaim masih berjalan lancar, pemerintah Nepal tetap mengambil langkah waspada karena tidak tahu kapan jalur laut internasional tersebut akan normal kembali. Pemerintah tidak ingin stok energi di dalam negeri habis secara tiba-tiba jika gangguan di Timur Tengah terus berlanjut dalam waktu lama.

Kekhawatiran masyarakat akan kelangkaan gas mulai memicu aksi beli secara berlebihan. Juru bicara Nepal Oil Corporation (NOC), Manoj Kumar Thakur, menjelaskan kondisi di lapangan bahwa warga mulai membeli gas melebihi kebutuhan harian mereka.

"Pasokan kami masih aman. Namun, perang di Timur Tengah dan isu kelangkaan memicu konsumen untuk melakukan aksi borong melebihi kebutuhan mereka," katanya, dilansir The Straits Times.

Langkah menjual tabung gas dengan kapasitas setengah isi ini diharapkan dapat memastikan seluruh lapisan masyarakat tetap mendapatkan bahan bakar secara adil. Dengan cara ini, pemerintah berupaya meredam kepanikan warga sekaligus menjaga agar stok gas nasional tetap cukup untuk waktu yang lebih lama.

2. Nepal jual gas setengah isi demi keadilan distribusi

NOC telah memerintahkan seluruh pabrik pengisian gas untuk mengedarkan tabung seberat 7,1 kilogram atau setengah dari ukuran normal 14,2 kilogram. Langkah ini meniru strategi sukses yang pernah dilakukan Nepal saat menghadapi masa sulit pada tahun 2015 dan masa pandemi tahun 2020. Tujuannya adalah agar pembagian gas kepada warga bisa dilakukan secara adil dan merata.

Harga untuk tabung gas setengah isi ini ditetapkan sebesar 955 rupee Nepal (Rp109,2 ribu). Pemerintah sengaja mematok harga tersebut agar tetap murah dan bisa dibeli oleh masyarakat kelas menengah ke bawah yang sedang kesulitan ekonomi. Dengan harga yang terjangkau, diharapkan beban hidup masyarakat tidak semakin berat di tengah situasi dunia yang tidak menentu.

Direktur Eksekutif NOC, Chandika Prasad Bhatta, menegaskan bahwa aturan ini sangat mendesak untuk dilakukan demi menjaga stok energi negara dalam jangka panjang. Ia berharap masyarakat tidak lagi berebut untuk menimbun gas di rumah masing-masing.

"Penjatahan ini diharapkan dapat mengakhiri kepanikan dan serbuan untuk melakukan penimbunan," ujarnya, dilansir Fine Day Radio.

Melalui kebijakan ini, pemerintah Nepal optimistis kebutuhan bahan bakar seluruh warga tetap terpenuhi meskipun jalur pasokan internasional sedang terganggu. Pengawasan ketat juga akan dilakukan di lapangan untuk memastikan setiap agen menjual gas sesuai dengan aturan berat dan harga yang telah ditentukan.

3. Nepal jamin stok gas aman dan lipat gandakan distribusi warga

Peningkatan permintaan gas yang sangat drastis di wilayah Lembah Kathmandu telah memicu antrean panjang di tempat-tempat pengisian. Warga merasa khawatir akan terjadi kelangkaan bahan bakar secara nasional, padahal data menunjukkan hampir 70 persen rumah tangga di wilayah ibu kota sangat bergantung pada gas LPG. Oleh karena itu, sistem penjatahan dengan volume setengah isi menjadi solusi paling masuk akal agar pembagian energi tetap merata.

Pemerintah mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong atau menimbun gas. Hal ini dikarenakan proses impor dari Indian Oil Corporation sebenarnya masih berjalan normal tanpa hambatan teknis sama sekali. Masyarakat diminta tidak terpancing isu kelangkaan karena stok dari India terus masuk ke wilayah Nepal seperti biasa.

"Dengan sistem setengah tabung, distribusi gas akan menjangkau lebih banyak rumah tangga. Kapasitas yang sebelumnya hanya untuk 2.000 konsumen, kini bisa memenuhi kebutuhan hingga 4.000 orang," ujar Manoj Kumar Thakur dari pihak pengelola gas.

Dengan kebijakan ini, pemerintah berharap antrean panjang di depo pengisian segera berkurang. Fokus utama saat ini adalah memastikan setiap rumah tangga memiliki cukup gas untuk keperluan memasak sehari-hari tanpa harus berebut dengan warga lainnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More