Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Remaja Prancis Divonis 15 Tahun Penjara atas Kasus Pembunuhan Guru
Bendera Prancis (freepik.com/user6702303)
  • Pengadilan anak di Prancis menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara kepada remaja 19 tahun atas pembunuhan berencana terhadap guru bahasa Spanyolnya pada 2023 di Saint-Jean-de-Luz.
  • Persidangan menyoroti kondisi kejiwaan pelaku, namun hakim menilai tindakan dilakukan dengan sadar karena adanya perencanaan membawa pisau dari rumah dan menyembunyikannya sebelum penyerangan.
  • Keluarga korban menerima putusan dengan berat hati, sementara warga setempat mengadakan penghormatan bagi sang guru dan pemerintah berkomitmen memperkuat keamanan sekolah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pengadilan khusus anak di wilayah Pyrénées-Atlantiques, Prancis, menjatuhkan vonis 15 tahun penjara kepada seorang pemuda berusia 19 tahun pada Jumat (24/4/2026). Ia dinyatakan bersalah atas kasus pembunuhan berencana terhadap gurunya sendiri pada tahun 2023.

Peristiwa ini terjadi di sebuah sekolah swasta di Saint-Jean-de-Luz saat pelaku masih berusia 16 tahun. Insiden yang menewaskan guru bahasa Spanyol bernama Agnes Lassalle (53) ini sempat menjadi perhatian nasional dan memicu diskusi publik mengenai standar keamanan di lingkungan pendidikan Prancis.

1. Penusukan guru bahasa Spanyol di ruang kelas

Peristiwa terjadi pada 22 Februari 2023, di sekolah menengah Saint-Thomas d'Aquin, Saint-Jean-de-Luz. Pelaku yang saat itu berusia 16 tahun membawa pisau dapur sepanjang 18 sentimeter dari rumahnya. Pisau tersebut disembunyikan di dalam gulungan kertas tisu untuk mengelabui pemeriksaan keamanan.

Sekitar pukul 09.45 waktu setempat, saat pelajaran bahasa Spanyol berlangsung, pelaku berjalan menuju pintu kelas dan menguncinya. Ia kemudian mendekati Agnes Lassalle di depan kelas dan menikam dada korban satu kali. Luka sedalam 14 sentimeter tersebut mengenai pembuluh darah aorta dan paru-paru kanan korban, yang berujung pada kematian.

"Pelaku mengakui tidak menyukai guru bahasa Spanyol tersebut karena nilainya di mata pelajaran ini lebih rendah dibandingkan dengan mata pelajaran lain," kata Jaksa Penuntut Umum Bayonne, Jerome Bourrier, dilansir The Guardian.

Setelah penusukan terjadi, para siswa segera meninggalkan ruang kelas. Pelaku kemudian berpindah ke ruang kelas di sebelahnya. Di ruangan tersebut, dua orang guru menenangkan pelaku dan mengambil senjatanya hingga polisi tiba di lokasi. Penyelidikan awal kepolisian menyimpulkan bahwa tindakan membawa pisau dari rumah dan menyembunyikannya merupakan bukti adanya perencanaan.

2. Perdebatan tentang kondisi kejiwaan pelaku 

Dalam persidangan di pengadilan, perdebatan utama berfokus pada kondisi kesehatan mental pelaku. Tim pembela berargumen bahwa kliennya mengalami gangguan psikologis dan halusinasi saat kejadian. Namun, hasil pemeriksaan psikiatri menunjukkan perbedaan pendapat. Jaksa menilai pelaku bertindak secara sadar karena adanya persiapan sebelum penyerangan.

"Tindakan ini terjadi akibat gangguan penilaian dan realitas. Masalah kejiwaan klien kami menunjukkan adanya remaja yang mengalami masalah tanpa terdeteksi, dan sayangnya harus menghadapi masalah ini sendirian," kata Pengacara Terdakwa, Me Thierry Sagardoytho.

Jaksa awalnya menuntut hukuman 16 tahun penjara karena menilai pelaku kurang menunjukkan empati selama persidangan berlangsung. Majelis hakim pada akhirnya menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara. Putusan ini diambil dengan mempertimbangkan unsur pembunuhan berencana serta status pelaku yang masih di bawah umur saat insiden terjadi.

Sejak Januari 2025, pelaku telah dipindahkan ke pusat penahanan Mont-de-Marsan. Di fasilitas tersebut, ia menjalani masa tahanan sekaligus menerima pengawasan medis. Pengadilan memproses kasus ini murni sebagai tindak kriminalitas, mengingat pelaku tidak memiliki rekam jejak kekerasan atau radikalisme sebelumnya.

3. Tanggapan keluarga korban dan penghormatan warga sekitar

Vonis ini mendapat respons dari pasangan Agnes Lassalle, Stéphane Voirin, yang selalu hadir selama proses persidangan. Ia menyampaikan pandangannya setelah majelis hakim membacakan putusan akhir.

"Sekarang kita tahu nilai dari nyawa seorang guru yang berdedikasi. Ini berat, tetapi kita harus melangkah maju, melakukan yang terbaik, dan saling mendukung," kata Stéphane Voirin, dilansir Le Monde.

Keluarga pelaku juga hadir dalam persidangan tersebut. Ibu pelaku dilaporkan pingsan saat vonis dibacakan. Merespons hal tersebut, Stéphane Voirin turut menyampaikan simpati kepada keluarga pelaku.

"Kita semua adalah orang tua dan situasi ini pasti sangat berat bagi mereka juga," kata Stéphane Voirin.

Sebagai bentuk penghormatan, warga Saint-Jean-de-Luz menempatkan plakat peringatan di taman pusat kebudayaan Peyuco-Duhart. Kasus ini mendorong Kementerian Pendidikan Nasional Prancis untuk lebih berfokus pada peningkatan keamanan dan upaya pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah. Vonis 15 tahun penjara ini menjadi ketetapan hukum akhir bagi kasus tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team