Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
RI Dorong Kemitraan ASEAN-Uni Eropa Lebih Berdampak ke Masyarakat
Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir hadir dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN-Uni Eropa Ke-25 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. (Dok. Kemlu RI)
  • Indonesia menegaskan kemitraan ASEAN-Uni Eropa harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan pelaku usaha, termasuk percepatan pembentukan CEPA untuk memperkuat perdagangan dan investasi lintas kawasan.
  • Dalam forum di Brunei Darussalam, Indonesia mendorong Uni Eropa berperan aktif menjaga stabilitas global melalui kerja sama dengan ASEAN dan negara Global South berbasis hukum internasional serta prinsip multilateralisme.
  • Menjelang 50 tahun kemitraan pada 2027, kedua kawasan sepakat memperkuat kolaborasi strategis dan menandatangani Joint Statement sebagai komitmen bersama menghadapi tantangan geopolitik yang semakin kompleks.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kemitraan antara ASEAN dan Uni Eropa kembali ditegaskan sebagai salah satu pilar penting di tengah situasi global yang semakin tidak menentu. Dalam pertemuan tingkat menteri ke-25 yang digelar di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, kedua kawasan sepakat untuk memperkuat kerja sama strategis yang lebih konkret dan saling menguntungkan.

Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir menekankan hubungan antara ASEAN dan Uni Eropa tidak boleh berhenti pada simbolisme semata. Ia menilai, kemitraan ini harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha di kedua kawasan.

Pertemuan tersebut juga menjadi momentum penting menjelang 50 tahun kemitraan ASEAN-Uni Eropa pada 2027. Selain memperkuat hubungan bilateral, forum ini dimanfaatkan untuk bertukar pandangan mengenai berbagai isu kawasan dan global yang kian kompleks.

Di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi global, peran Uni Eropa dinilai semakin krusial. Indonesia pun mendorong agar Uni Eropa dapat berkontribusi secara konstruktif bersama ASEAN dan negara-negara Global South lainnya.

1. Kemitraan harus punya dampak nyata

Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir hadir dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN-Uni Eropa Ke-25 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. (Dok. Kemlu RI)

Dalam pernyataannya, Arrmanatha menegaskan kemitraan ASEAN-Uni Eropa harus memberikan hasil konkret yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Ia menyoroti pentingnya mendorong kerja sama ekonomi yang lebih dalam dan terstruktur.

“Kemitraan ASEAN dan Uni Eropa bukan sekadar simbol. Manfaatnya harus bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku bisnis, serta dapat diandalkan oleh pasar,” tegasnya dalam pertemuan tersebut, dikutip dari situs resmi Kemlu RI, Rabu (29/4/2026).

Untuk itu, Indonesia mendorong percepatan pembentukan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara ASEAN dan Uni Eropa. Perjanjian ini diharapkan dapat memperkuat hubungan perdagangan dan investasi yang selama ini telah terjalin.

Selain aspek ekonomi, kerja sama juga mencakup berbagai sektor strategis lainnya, seperti energi, pangan, konektivitas, transformasi digital, maritim, dan perdagangan. Bidang-bidang ini dinilai menjadi prioritas dalam memperkuat kemitraan ke depan. Dengan cakupan kerja sama yang luas, ASEAN dan Uni Eropa diharapkan mampu menciptakan ekosistem kolaborasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

2. Dorongan peran Uni Eropa di tengah krisis global

Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir hadir dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN-Uni Eropa Ke-25 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. (Dok. Kemlu RI)

Dalam forum tersebut, Indonesia juga menekankan pentingnya peran Uni Eropa dalam menjaga stabilitas global. Arrmanatha menyebutkan kerja sama lintas kawasan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan geopolitik saat ini.

Ia berharap Uni Eropa dapat bekerja sama lebih erat dengan ASEAN dan negara-negara Global South untuk mempertahankan sistem internasional yang terbuka dan adil.

“Kita perlu mendorong terwujudnya sistem internasional yang terbuka, adil dan stabil,” ucapnya yang pesan utama yang disampaikan dalam konteks kerja sama tersebut.

Selain itu, isu penghormatan terhadap hukum internasional dan pentingnya multilateralisme juga menjadi sorotan dalam pertemuan. Para menteri dan wakil menteri yang hadir sepakat bahwa kolaborasi global harus tetap berpijak pada prinsip-prinsip tersebut.

Pertemuan ini juga menunjukkan ASEAN dan Uni Eropa memiliki kepentingan bersama dalam menjaga tatanan global yang stabil di tengah meningkatnya ketegangan internasional.

3. Menuju 50 tahun kemitraan ASEAN-Uni Eropa

Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir hadir dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN-Uni Eropa Ke-25 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. (Dok. Kemlu RI)

Kemitraan ASEAN-Uni Eropa yang telah terjalin sejak 1977 akan memasuki usia 50 tahun pada 2027. Momentum ini dipandang sebagai kesempatan untuk memperkuat arah kerja sama ke depan.

Arrmanatha menutup pernyataannya dengan menyoroti pentingnya reformasi sistem multilateral agar lebih relevan dengan kondisi dunia saat ini. Ia mendorong kolaborasi yang lebih erat untuk menciptakan tata kelola global yang inklusif dan responsif.

Pertemuan tingkat menteri ini juga diwarnai dengan sejumlah agenda bilateral. Wamenlu RI melakukan pertemuan dengan Menlu Brunei Darussalam, High Representative Uni Eropa, serta wakil menteri dari Austria, Polandia, Portugal, dan Jerman.

Di akhir pertemuan, para peserta menyepakati Joint Statement sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat kemitraan strategis kedua kawasan.

Dengan berbagai kesepakatan yang dicapai, ASEAN dan Uni Eropa menunjukkan komitmen untuk terus beradaptasi dan bekerja sama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Editorial Team